bagaimana kalau mereka yang berdasi dan duduk di ruang AC dengan kursi nyaman tetapi korupsi? dibandingkan dengan para tukang becak yang memakai celena pendek dan baju compang camping tetapi bekerja setulus hati. Atau dokter yang berjas putih tetapi membuat pasien lama menunggu sebanding dengan penjual angkringan yang menyajikan gelas pun dengan sopan? Mana yang profesional? jadi sebenarnya profesional itu apa?
Kalimat itu mengusik dan menggugah gairahku untuk berpikir, yah... saya sepakat memang tampak luaran alias pakaian bukan segala-galanya, dan mungkin sebagian orang akan setuju akan hal itu. Namun, yang menjadi pertanyaanku, kenapa sebagian dosen dan mungkin banyak orang tua beralasan bahwa PAKAIAN merupakan Bagian dari PROFESIONALITAS seseorang. why?? "jederrrrrrrr" suara petir menyambar nyambar dari langit dan bumi memunculkan aroma sedap yang tidak bisa dituliskan bagaimana baunya.
"apakah profesional itu sekedar baju mas?" bapak penikmat tape itu meneruskan. "saya juga tidak begitu yakin, tetapi apakah mungkin bapak? dokter ke rumah sakit atau buka praktek menggunakan tanktop? atau semacam kaos singlet? saya rasa juga tidak mungkin itu." aku mencoba buat rasional.
"Yah yah yah, itu memang benar mas. Saya sepakat, tetapi kenapa tidak kalau perlu? bayangkan kalau ada pasien kondisi darurat malam-malam datang ke rumahnya, apa iyah dokternya harus berganti baju dinas dulu? saya rasa itu juga tidak baik." "GLEK" rasanya seperti tercekik, benar juga bapak ini pikirku. Jadi apa sebenarnya kata PROFESIONAL dan apakah pakaian berhubungan dengan itu.
"mmm... sudah mas.. Jangan terlalu dipikirkan. Mungkin saya cuma ngelantur aja" bapak itu tersenyum. Aku yang semacam kacau, malu bercampur dengan rasa ingin tahu, dan kecewa. kenapa dosen dan semua yang memberitahuku bahwa harus bepakaian agar terlihat profesional tidak pernah memberi tahu hal ini.
"mas, berpakaian pada dasarnya hanya untuk menutupi dari malu dan melindungi dari cuaca. tetapi jaman sekarang menjadi lain, karena esensinya semua sama di mata sang kholiq bukan pakaian yang membedakan kita tetapi amalan" tapi sekarang berubah menjadi banyak fungsi. Fungsi pembeda, status sosial, fungsi gaya. yah banyak fungsi. dan kadang kita jadi lupa. Aku cuma ngangguk ngangguk. lidahku kelu, dan salivaku seperti terhambat untuk memproduksi air liur. kaku dan tidak bisa berujar apa-apa.
Secara pribadi, aku juga berpendapat sama dengan si Bapak. Esensi berpakaian adalah menutupi kemaluan, jadi kalau sudah berpakaian tapi kok masih melakukan hal-hal memalukan, mending tidak usah berpakaian. itu yang pertama.
Kedua, "KESOPANAN" berpakaianlah sesuai dengan kesopanan yang ada di dalam hati dan jujur lah untuk bisa sopan. Jangan karena diundang makan-makan pejabat jadi harus merelakan banyak uang untuk berpakaian mahal. Jadi berpakaian lah sesuai konteksnya dengan niat yang sesuai pula. Karena sebuah perilaku bisa jadi terhitung amalan seandainya niatnya benar.
Ketiga, yang membuat pakaian menjadi bagian dari profesionalisme ada sebuah gengsi dari masing-masing profesi. Dokter merasa perlu dibedakan dengan pasiennya dan direktur merasa perlu dibedakan dengan bawahannya. Jadi kalau dalam konteks yang benar, berlaku lah profesional tanpa harus menunjukan "perbedaan" dengan pakaiannya yang digunakan. Bagaimana pun arti profesional adalah "sesuai dengan profesinya" dalam hal ini yang saya maksud adalah bagaimana seseorang menjalankan tanggungjawab profesinya dengan sebenar-benarnya.
Hidup... hanyalah sebuah cover permukaan, karena esensinya adalah kita ciptaan-Nya untuk bersujud kepada-Nya
Hujan pun mereda, setelah membayar apa yang sudah saya asup. Saya berenjak pergi. senyum terurai penuh kepuasan. Inilah angkringan, dimana semua kalangan bisa saling bertukar pikiran, tanpa ada sekat dan status yang dibawa-bawa. Yang ada hanya bagaimana pola pikir dan perenungan masing-masing akan sebuah "konteks". Angkringan... selalu ada cerita.

