Jumat, 26 Oktober 2012

Angkringan... Cerita di Balik Tape Panas 2

bagaimana kalau mereka yang berdasi dan duduk di ruang AC dengan kursi nyaman tetapi korupsi? dibandingkan dengan para tukang becak yang memakai celena pendek dan baju compang camping tetapi bekerja setulus hati. Atau dokter yang berjas putih tetapi membuat pasien lama menunggu sebanding dengan penjual angkringan yang menyajikan gelas pun dengan sopan? Mana yang profesional? jadi sebenarnya profesional itu apa?

Kalimat itu mengusik dan menggugah gairahku untuk berpikir, yah... saya sepakat memang tampak luaran alias pakaian bukan segala-galanya, dan mungkin sebagian orang akan setuju akan hal itu. Namun, yang menjadi pertanyaanku, kenapa sebagian dosen dan mungkin banyak orang tua beralasan bahwa PAKAIAN merupakan Bagian dari PROFESIONALITAS seseorang. why?? "jederrrrrrrr" suara petir menyambar nyambar dari langit dan bumi memunculkan aroma sedap yang tidak bisa dituliskan bagaimana baunya.

"apakah profesional itu sekedar baju mas?" bapak penikmat tape itu meneruskan. "saya juga tidak begitu yakin, tetapi apakah mungkin bapak? dokter ke rumah sakit atau buka praktek menggunakan tanktop? atau semacam kaos singlet? saya rasa juga tidak mungkin itu." aku mencoba buat rasional. 
"Yah yah yah, itu memang benar mas. Saya sepakat, tetapi kenapa tidak kalau perlu? bayangkan kalau ada pasien kondisi darurat malam-malam datang ke rumahnya, apa iyah dokternya harus berganti baju dinas dulu? saya rasa itu juga tidak baik."  "GLEK" rasanya seperti tercekik, benar juga bapak ini pikirku. Jadi apa sebenarnya kata PROFESIONAL dan apakah pakaian berhubungan dengan itu.
"mmm... sudah mas.. Jangan terlalu dipikirkan. Mungkin saya cuma ngelantur aja" bapak itu tersenyum. Aku yang semacam kacau, malu bercampur dengan rasa ingin tahu, dan kecewa. kenapa dosen dan semua yang memberitahuku bahwa harus bepakaian agar terlihat profesional tidak pernah memberi tahu hal ini. 

"mas, berpakaian pada dasarnya hanya untuk menutupi dari malu dan melindungi dari cuaca. tetapi jaman sekarang menjadi lain, karena esensinya semua sama di mata sang kholiq bukan pakaian yang membedakan kita tetapi amalan" tapi sekarang berubah menjadi banyak fungsi. Fungsi pembeda, status sosial, fungsi gaya. yah banyak fungsi. dan kadang kita jadi lupa. Aku cuma ngangguk ngangguk. lidahku kelu, dan salivaku seperti terhambat untuk memproduksi air liur. kaku dan tidak bisa berujar apa-apa.

Secara pribadi, aku juga berpendapat sama dengan si Bapak. Esensi berpakaian adalah menutupi kemaluan, jadi kalau sudah berpakaian tapi kok masih melakukan hal-hal memalukan, mending tidak usah berpakaian. itu yang pertama.

Kedua, "KESOPANAN" berpakaianlah sesuai dengan kesopanan yang ada di dalam hati dan jujur lah untuk bisa sopan. Jangan karena diundang makan-makan pejabat jadi harus merelakan banyak uang untuk berpakaian mahal. Jadi berpakaian lah sesuai konteksnya dengan niat yang sesuai pula. Karena sebuah perilaku bisa jadi terhitung amalan seandainya niatnya benar.

Ketiga, yang membuat pakaian menjadi bagian dari profesionalisme ada sebuah gengsi dari masing-masing profesi. Dokter merasa perlu dibedakan dengan pasiennya dan direktur merasa perlu dibedakan dengan bawahannya. Jadi kalau dalam konteks yang benar, berlaku lah profesional tanpa harus menunjukan "perbedaan" dengan pakaiannya yang digunakan. Bagaimana pun arti profesional adalah "sesuai dengan profesinya" dalam hal ini yang saya maksud adalah bagaimana seseorang menjalankan tanggungjawab profesinya dengan sebenar-benarnya.

Hidup... hanyalah sebuah cover permukaan, karena esensinya adalah kita ciptaan-Nya untuk bersujud kepada-Nya
 
Hujan pun mereda, setelah membayar apa yang sudah saya asup. Saya berenjak pergi. senyum terurai penuh kepuasan. Inilah angkringan, dimana semua kalangan bisa saling bertukar pikiran, tanpa ada sekat dan status yang dibawa-bawa. Yang ada hanya bagaimana pola pikir dan perenungan masing-masing akan sebuah "konteks". Angkringan... selalu ada cerita.

Rabu, 17 Oktober 2012

Angkringan... Di Balik Cerita Tape Panas

Di balik gerimis, sebuah senyum mentari dengan guratan pelangi tengah menari-nari...

Orang sering tidak bisa melihat apa yang tampak, dengan mata hanya akan sebatas permukaan... dengan mata hanya akan sebatas cover.... dengan mata hanya sebatas luaran...


mata membatasi imajinasi....  Dengarkan, perhatikan, dan rasakan, seandainya semua itu dicari penghubungnya, mungkin berujung pada HATI....

Cuaca menjadi susah diprediksi, meskipun alam masih memberi tanda. Musim penghujan dan musim panas masih berputar bergantian, namun pergeseran waktunya menjadi susah diprediksi buat mereka orang yang awam. Ada hujan ditengah panas, namun ada terik menyapa di musim hujan.
Hujan perlahan menjadi deras, menumpahkan air ke bumi penuh rasa syukur, aku sudah lama tidak hujan-hujan, namun alangkah bodohnya ketika bermain dengan hujan sambil bawa laptop yang tinggal satu-satunya. Sedikit kecewa, namun tidak menjadi bodoh pun sedikit menyenangkan. Aku memutuskan untuk berhenti di Angkringan.

"Jawah mas, mampir mriki" sebuah senyum ramah dari sang empunya angkringan meluncur dengan lembutnya, "nggih pak, mengkeh dak flu nek udan-udan" jawabku bercanda. Ada catatan di sini, sesuatu yang sikapnya spontan sering kali menyenangkan, karena spontan itu bisa jadi jujur, bukan sesuatu yang direncanakan atau dibuat-buat, dan itu menyenangkan. Menyenangkan ketika tanpa tujuan kemudian kita mampir disebuah angkringan dan diterima dengan nyaman di sana, dan itu tidak aku rencanakan...

"mau minum apa mas?" beliau melanjutkan. Begitu kalimat tersebut beliau lontarkan, aku sekilas melihat bungkusan daun pisang yang menandakan ada tape di sana. Sedikit melihat kembali untuk memastikan, seraya mengangkatnya, aku tersenyum dan berkata "tape panas, bapak" . Bapaknya tersenyum dibalik kerut di wajahnya. Ada dua hal yang menyenangkan di sini. Pertama beliau tersenyum, meskipun senyumnya banyak mengandung arti namun binar matanya menunjukan bahwa beliau menyukai saya sebagai pelanggan. Kedua saya menjadi senang, bagaimanapun aku terasa menyenangkan bila melihat orang tersenyum karena kita, ada perasaan senang dan bercampur haru. Inilah angkringan, banyak sekali cerita tidak terduga yaang sering kali menginspirasi. Banyak sekali pola tingkah interaksi di sana, mungkin ada kepalsuan, namun ada rasa nyaman di sana dan kenyamanan adalah hal yang mahal, namun angkringan menjualnya seharga nasi kucing dan teh panas.

Segelas tape panas, disajikan beliau perlahan. Warnanya hijau bening, tidak pekat, tapenya tidak begitu hijau namun agak kekuningan, atau sering dibilang hijau muda sekali. Aroma tapenya sangat terasa, layaknya alkohol, aroma tape ini juga pekat, namun harum dan enak mengundang selera. 
 Aku cukup lama memperhatikan gelasku, sampai-sampai empunya angkringan membuyarkan pengamatanku dengan halus . "Tapenya asli, airnya panas pas, dan gelasnya bersih, wanginya pasti terasa sekali" senyum sumringah ala-ala seles promosi nampak dibalik raut wajah beliau. dan aku sepakat. inilah tape panas yang sebenarnya. Kenapa sebenarnya? karena tidak banyak penjual angkringan yang menjual tape ketan, dan kalaupun ada, ketan tapenya itu tidak mengundang selera, tidak asli hijaunya agak sedikit tua, dan baunya tidak begitu enak. Tape panas ini lain daripada yang lain, menurutku. "tidak sembarangan itu mas, saya tidak punya banyak, hanya beberapa saja. Tidak cukup waktu buat bikinnya. Beruntung mas datang ke sini tapenya pas lagi ada" beliau menambahkan. Berarti tape ini adalah bikinan tangan beliau.. WOW....

"iyah pak, rasanya lain. Penuh kenikmatan, tidak menyesal saya tidak jadi hujan-hujan. malah dapet tape panas uenak" saya berusaha menimpali usaha bapaknya.. Saking nikmatnya minumanku, sampai-sampai aku baru tersadar kalau tidak sendiriaan sebagai pelanggan, ada seorang bapak-bapak juga sedang manikmati tape panas. Mungkin mendengar celotehku, beliau menjadi terkekeh, sekaligus memberi tanda kehadiran baliau di sana. "mas ini bisa aja. jenengan mahasiswa mana mas?" tanya beliau. "oh, saya mahasiswa kampus "itu" pak" sebagai catatan, kata itu menunjukan kampusku yang hanya satu kilometer dari sana. "jurasan apa mas? semester berapa? kok rapih pakaiannya? apa jenengan sambil kerja nggih?" pak angkringan menimpali dengan berondongan pertanyaan. Aku sedikit kaget, seperti "kepo" sekali beliau. sedikit menghela nafas kemudian aku menjawab  "mboten pak, saya hanya kuliah saja. Masih semester satu di S2 Psikologinya" jawabku bangga.
"oalah jenengan tuh S2 toh, tak kira masih S1, pantes lah kalau pakaiannya rapih" sahut pak angkringan. Obrolan pun berljanjut hangat, berawal dari tape hangat sampai ngalor ngidul membahas pakaian. Ada sebuah kalimat menggelitik dari bapak pelanggan

 "apakah sebuah pakaian itu menunjukan profesionalitas? dan atau hanya membedakan sebuah status pekerjaan?" 

yah, menurut kata orang. pasti dua-duanya. Untuk membedakan pekerjaan namun juga menunjukan profesionalitas. Beliau membuat pembanding yang mungkin tidak sebanding, namun ada hal dibalik itu semua.

"bagaimana kalau mereka yang berdasi dan duduk di ruang AC dengan kursi nyaman tetapi korupsi? dibandingkaan dengan para tukang becak yang memakai celena pendek dan baju compang camping tetapi bekerja setulus hati. Atau dokter yang berjas putih tetapi membuat pasien lama menunggu sebanding dengan penjual angkringan yang menyajikan gelas pun dengan sopan? Mana yang profesional? jadi sebenarnya profesional itu apa?"

mmm....... sebuah perenungan.... to be continued..

Minggu, 07 Oktober 2012

the meaning of SELO??

SELOOOOOOOO ...

"sebuah tas" taken by fun_photo

     Begitu banyak orang bertanya pada saya? what's the meaning of selooo? saya memang sering menggunakan kata tersebut. Sejujurnya... kata tersebut bukan berasal dan bersumber dari intuisi saya. Namun, dari seorang teman saya yang luar biasa bernama Ikhsan, dan biasa dipanggil si Prof.. karena ketika kalian lihat tampangnya, maka bayangan profesor aneh dengan tatanan rambut tidak jelas serta kata-kata yang "krik-krik-krik" bakalan nongol dihadapan kalian..... 

      Balik kepermasalahan.... kadang kala kita sering menggunakan sebuah kata, dan tanpa disadari penggunaan dan atau penempatan kata tersebut di dalam sebuah kalimat adalah salah. Simplenya adalah "emosi" , Emosi sering kali diidentikan dengan "marah", padahal dengan sangat jelas sekali bahwa MARAH itu EMOSI, tapi EMOSI itu belum tentu MARAH.... yah.. begitu pula pemakaian dan pemaknaan kata SELOOOO buat saya. Secara jujur, kata selo dalam bahasa jawa adalah "longgar", itu setahu saya. atau kalau dalam penggunaannya sering diartikan sebagai "cukup waktu luang", itu arti "SELO" secara sempit bagi saya. Sama halnya ketika Sudjiwotedjo bicara "JANCUK", mungkin arti sempitnya adalah sebuah makian, padahal pemaknaanya mungkin bukan demikian bagi beliau. 

        Yah demikian pula dengan saya, SELO buat saya tidak hanya longgar atau cukup waktu luang saja, SELO itu adalah "berbeda", ketika saya melakukan hal-hal yang umumnya tidak dilakukan, namun tidak melanggar norma dan karena memang hal itu menurut saya benar. Maka itu adalah waktu yang tepat buat anda bilang "SELO" kepada saya. Cukup waktu untuk melakukan hal-hal yang menurut orang lain itu tidak ada artinya. Kenapa "berbeda"? sering kali justru hal yang dianggap tidak umum, tidak benar, atau tidak banyak orang lakukan adalah sebuah "kejujuran". Contoh kecilnya, Ketika sudah banyak orang yang tidak memiliki waktu untuk tersenyum pada orang yang tidak dikenal, mungkin anda akan dianggap orang yang bodoh atau gila bila melakukannya. Namun, itulah kejujuran. Kenapa kita musti jaim? kenapa kita musti menutup diri untuk tersenyum? itulah SELO yang pertama.

          Mungkin saya memiliki banyak arti atau pemaknaan terhadap kata "SELO", tetapi dua saja yang akan saya ungkapkan. Nah, yang kedua adalah bahwa kata "SELO" itu berarti fleksibilitas atau kelenturan dalam menghadapi berbagai persoalan dan dalam menjalani hidup. Ketika orang begitu kaku akan perbedaan, maka "SELO" adalah melihat bahwa perbedaan yang ada itu sebagai sebuah keanekaragaman yang tidak perlu diperdebatkan. Ketika hal-hal yang begitu prinsipil secara kaku dipegang oleh orang, sehingga baginya "perbedaan" pendapat adalah ancaman, maka "SELO" adalah bagaimana anda kemudian melihat bahwa sebuah prinsip bisa saja saling menghargai dan tetap jalan beriringan tanpa merugikan dan merasa terancam satu dan yang lainnya. itulah "SELO" yang kedua. Jaman sekarang boleh dibilang adalah jaman yang kaku, orang-orang sering sekali melihat dunia secara tekstual, padahal bumi itu moving/ bergerak, artinya kita harus menjadi dinamis ketika berjalan di dalamnya. Maka selo adalah sebuah pilihan buat saya dalam menjalani hidup.

"can i walk in the water?" taken by fun_photograpic

          Dua hal itu mungkin secara prinsip bisa berbeda dengan para pembaca, namun ingat lah saya orang SELO yang menghargai perbedaan dan tidak merasa perbedaan pandangan adalah sebuah ancaman, selama anda tidak benar-benar mengancam saya, baca memukul, maka saya hargai pandangan anda juga. Secara menyenangkan dapat dikatakan bahwa orang selo dalam dua arti yang saya katakan tadi dapat digambarkan sebagai sosok out of the box, orang-orang yang mungkin bisa dengan leluasa keluar masuk comfort zone-nya, dan dengan bebas menjalani hidupnya dan dengan penuh kesadaran menyadari bahwa kebebasan adalah hal yang tanggungjawabnya paling besar. Ingatlah hidup hanya sementara, nikmatin hidup sesuai jalan yang kamu perjuangkan dan aspal dengan tenagamu sendiri. pertahankan kalau itu memang benar dan bersikaplah fleksibel pada perbedaan. Buat apa yang sementara ini mati-matian dipertahankan kalau tidak akan mendapat apa-apa ujungnya. Saya hanya berpendapat!! Keep SELOOOOO!! SALAM SELOOOO