Jumat, 05 Desember 2014

FILOSOFI KOPI #4 No Coffee Depresso

We're out of coffee.... 
How Do You Feel When There Is No Coffee? DEPRESSO!

Sore itu, senja perlahan menghambur ke horizon. Aku memutuskan untuk menunggu lebih lama supaya bisa nge-capture momen blue hour,
BLUE HOUR adalah waktu di mana senja telah tenggelam dan menyisakan langit yang berwarna biru gelap sebagai langit peralihan siang dan malam. -6 sampai -4 derajat sebelum horizon kalau kata Google.
Aku pun tidak tahu pastinya -6 sampai -4 derajat tuh seberapa, cukup dirasakan saja. Learning by experienced. Lagian, angka itu soal kesepakatan, bukan kepastian. Kepastian itu soal ketetapan hati. Semakin tetap hati kita, semakin pasti pula apa yang kita rasakan.

Butuh kesabaran untuk memotret alam, bukan perkara yang mudah.
Alam punya aktivitasnya sendiri. Teratur, seimbang, namun dinamis menyesuaikan kehendak Tuhan. Apakah hujan, apakah pelangi, atau kah lembab, menyengat, semua sudah ada aturannya, dan itu HAK TUHAN untuk mengaturnya, Itu lah sebabnya alam memberikan banyak pelajaran tentang Ketuhanan. Oleh karena itu, seharusnya para pecinta alam semakin mencintai Tuhan, akan jadi ironis apabila tidak demikian. 

Akhirnya yang ditunggu hadir juga. Warna biru peralihan, menghadirkan suasana yang aku sebut "feel so blue" .Jangan artikan itu MELOW,
Suasana di mana kamu merasa seolah-olah waktu dan dunia ini hanya milikmu, itulah FEEL SO BLUE.
Aku mengabadikan beberapa momen, memutar lensa, menyesuaikan apperture, mencari angle terbaik, menyetting gearku. Mengambil momen terbaik dalam batas waktu yang relatif singkat. Seolah-olah aku dikejar waktu. Waktu tidak pernah menunggu dia berjalan, bergerak cepat. Persepsi yang membuat kita seolah-olah MENUNGGU waktu, padahal ia sebaliknya.

BLUE HOUR pun menjadi malam, menciptakan kepuasan. Kepuasan yang membuatku ingin melengkapinya dengan NGOPI. Pergi lah aku ke warung kopi (baca coffeeshop) dan berharap malam itu menjadi lengkap karena ada KOPI dan INSPIRASI.

Sampai lah aku pada sebuah coffeeshop berukuran kecil, tidak lebih dari 5x3 meter persegi. Interior desain berbahan dasar kayu, dengan lapisan plitur yang terkesan natural. Desain seperti itu memang sedang IN. Semua terkesan sederhana. jejeran kaleng kaleng kaca berisi kopi, tatanan gelas dan botol syrup khas cafe-cafe, serta tempat duduk yang memang terkesan santai untuk mengobrol. Lebih cantik lagi dengan adanya rak besar yang berisi varian kopi, baik secara jenis, kemasan, ukuran, maupun pernak pernik warung kopi dari sebuah eksportir kopi yang lumayan besar di indonesia.
Aku mendatangi barista, seorang perempuan berkrudung menyapaku dan menawarkan beberapa jenis kopinya. Syphone Gayo yang akhirnya aku pilih.
Kopi memang ada hanya ada dua, ROBUSTA atau ARABICA, namun dari segi proses pematangan, pemasakan, dan atau lokasi tanam membuat varian kopi jadi beraneka, salah satunya Gayo. Karakter aromanya yang kuat,wangi, spicy, body yang lembut membuat gayo selalu menjadi pilihanku. Belum bisa aku benar-benar beralih dari Gayo. Padahal banyak jenis kopi lain yang karakternya hampir sama, ciwidey, temanggung, guatemala.

Barista perempuan itu mendatangiku, membawakan perlengkapan seperti tabung praktikum untuk memproses kopi yang aku kenal dengan istilah syphone. Warung itu sepi, hanya ada aku sebagai pengunjung pagi itu. Seorang pria tinggi, badannya gempal, berbaju batik mendatangiku.

"Suka kopi mas?" tanyanya menyapaku
"Addict mas" balasku tersenyum
"Pertama kali ke sini? baru tau atau memang baru sempat nyoba?"
"ini pertama kali, baru tau ada warung ini"

Pria itu pun bercerita tentang warung tersebut. Ternyata warungnya sudah setahun berdiri, namun sepi pengunjung karena faktor marketing yang kurang mantap katanya. Alasan tersebut yang membuat laki-laki tadi dipindahkan dari Jakarta ke Jogja. Warung Kopi itu ternyata ada di beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Pekanbaru. Dia mulai bercerita berbagai pengalamannya sebagai manajer. Aku takjub, banyak sekali wejangan yang bisa kita peroleh dari orang ini. Tampaknya pun, dia sangat menikmati bercerita. Sampai akhirnya ada kalimatnya yang menggelitik.

"Kopi itu layaknya perempuan"  beda perlakuan beda pula hasilnya. Semua orang tau kopi, semua orang bisa belajar tentang kopi bahkan dengan cepat, namun tidak banyak yang bisa memperlakukan KOPI dengan tepat. Semua bisa bilang paham tentang perempuan, namun tidak semua dapat memperlakukannya dengan tepat"

Aku tergelitik, aku belum pernah mendengar ada perbandingan yang demikian. Aku bertanya padanya "seberapa KOPI kah perempuan itu?" konyol kedengarannya, namun laki-laki itu bisa memahami pertanyaanku.

"itu lah uniknya... Perempuan sama halnya dengan minum kopi.. Pahit, manis, asem yah kita telen juga kan sebagai laki-laki" 


Aku mulai paham, memang benar apa yang disampaikan laki-laki itu. Benar bahwa apapun itu, kami pria yang akan mengejar perempuan. Mau jaman emansipasi seperti apa pun ke depan besok. Kebanyakan perempuan pasti akan minta dikejar. Dan layaknya KOPI, pahit manis asem rasanya, sebagai laki-laki tetap kami telan.

Menurutku, itu lah gambaran penghargaan tertinggi bagi perempuan... dan gambaran mengenai memilih laki-laki yang tepat.

Kopi adalah sesuatu yang merakyat namun nilai jualnya tinggi. Sama halnya dengan perempuan, dia memang banyak. namun hanya yang terpilih yang memiliki penghargaan tertinggi.
Demikian juga dengan laki-laki. Banyak laki-laki ganteng, kaya, pintar, namun bukan itu yang jadi "point" utama buat bisa memperlakukan perempuan dengan tepat! Dan hanya dia yang bisa memperlakukan perempuan dengan tepat yang akan bisa menikmati AROMA CITARASAnya.

"barista pun kebanyakan lulusan SMA, namun justru pengalaman, keinginan belajar yang membuatnya semakin tahu cara memperlakukan kopi. Maka jatuh bangun lah mengejar perempuan karenanya kamu akan semakin tahu cara memperlakukannya dengan benar. Dan mulai lah itu dari Ibumu sebagai perempuan" 

Kalimat di atas lah yang memperjelas semuanya. memperjelas kekedudukan wanita dalam metaforanya sebagai KOPI.
Hanya Ayah yang tahu bagaimana menghargai istrinya dan hanya anak yang tahu bagaimana menghormati perjuangan Ibunya lah yang akan tahu bagaimana memperlakukan seorang perempuan dengan tepat!

Dan akhirnya, segelas espresso dan Gayo syphone terhitung gratis karena kami mulai akrab, dia seorang manager coffeeshop memberikan banyak sekali pemahaman baru tentang hidup, usaha, kerja keras, dan tentu saja tentang KOPI. Pemaknaan terhadap KOPI dari seseorang yang sudah berkecimpung dengan dengan KOPI selama lebih dari 10 tahun, sedangkan usianya hanya terpaut 10 tahun dari angka seperempat abad. Amazing!!

Kebayang jadinya.. seandainya kopi adalah perempuan? maka It Would Be So Depresso When There Is No Coffee, karena perjuangan seorang Ibu lah, anak laki-lakinya bisa menjadi sosok yang tangguh. 

Terimakasih Tuhan karena engkau mempertemukanku dengan orang hebat, yang menambah wawasan hidupku dan juga tentang kopi. Terimakasih untuk seseorang yang menginspirasi judul tulisan ini. Terimakasih untuk Pak Taufiq Coffindo atas free espresso dan Mbak Hilga atas Gayo Siphone nya.

FILOSOFI KOPI #3

Jumat, 11 Juli 2014

FILOSOFI KOPI #3 Secangkir Kopi, Pria Tua, Dan Senja

by snapshot morning glory

Dia yang mulai renta, dengan  lipatan kerut pada wajah dan senyumnya
Antara tua dan muda bertukar cerita, berbagi makna... menguntai canda, mengurai kekakuan
Cerita tentang karya seorang Pak Tua, Goresan idealisme dan percampuran warna tentang dunia
Memunculkan kekaguman akan kebijaksanaan.. Pak Tua, sang penikmat kopi dan senja


Senja dikala itu.... beliau tampak sederhana dengan kaos putih, kacamata bulat model lama, jeans belel. Lengkap dengan aksesorisnya, tongkat kayu berwarna coklat tua dengan guratan kayu yang tampak apik. 

Senja dikala itu... campur aduk warna merah, oranye, kuning, biru, dan abu-abu...Begitu damai... Aroma nikmat rokok kretek merek ternama yang asing bagi kebanyakan orang, namun tidak bagi mereka perokok sejati, menambah syahdu senja dikala itu.

Seorang Pria tua itu menyapaku, berbicara tentang rokokku. dari situ lah pembicaraan kami tentang hal yang tidak aku sangka berawal.

"rokok ini... di masa muda saya, ia berjaya. Hanya tuan muda saja yang bisa menikmatinya" ujar pria tua lembut.

Aku kaget, temanku mengenalnya. Mereka berbincang sejenak tentang pertemuan yang baru 5 menit lalu mereka alami. Saat temanku memesan secangkir kopi jahe.

"ahh... mari om, silahkan duduk bersama kami"  temanku mempersilahkannya, menarik kursi untuk beliau dan mulai menawarkan rokokku padanya.
Aku hanya tersenyum, mengamati beliau dan menarik kesimpulan cepat bahwa beliau adalah seniman.

Pria itu tersenyum... ia mengaku kagum dengan kami. Anak muda yang santun kata beliau.
Di zaman sekarang ini, di mana tata krama adalah sajian mahal, namun dijual gratis pun ditolak mentah-mentah.
Beliau duduk, menolak rokokku dengan halus, dan mulai memegang tongkatnya ditengah-tengah dagunya. Bergumam tentang aku dan temanku, dua anak muda yang beliau rasa punya selera untuk menikmati senja.
Aku memang suka dengan senja, warna dan rasanya membuat kita berpikir, waktu yang pas untuk merenung, tentang makna kehidupan yang kita semua tahu tidak lah selamanya. 

"Jarang ada pemuda seperti kalian, namun nampaknya kalian sudah tidak muda, hanya belum cukup umur saja untuk dibilang tua"  kami bertiga tertawa.

"iya om, kami belum bisa dibilang tua, namun wajah kami nampaknya sudah tidak muda, seperempat abad tepatnya" temanku berujar

"bekerja di mana?" 

"kami pengangguran om. masih belum lulus kuliah. betah jadi mahasiswa" kataku membuka suara

"mahasiswa, enak soalnya yah? Menyandang gelar Maha, meskipun sebenarnya cuma siswa. Namun, cukup bisa dibanggakan lah yah? kenapa belum selesai? apakah sibuk bekerja? 

"hanya teman saya ini om yang bekerja, saya sendiri sudah cukup sibuk memikirkan kuliah, tidak sanggup rasanya menambah beban dengan bekerja" 

"Ahhh... saya paham. Saya pun demikian. Hanya saja, hobi dan pekerjaan saya selaras. Itu membuatnya sangat berharga sehingga ringan sekali rasanya"

Beliau adalah seniman yang karyanya banyak tersimpan diberbagai geleri serta seorang kurator untuk museum ternama di Jakarta, setidaknya itu hasil yang aku temukan setelah meng-googling namanya. Tidak disangka kami bertemu beliau, di tempat sederhana dengan hamparan luas keindahan.

"Bekerja itu bukan melulu soal uang, bekerja itu soal meng-ADA. Terlebih di usia kalian memang sudah sepantasnya kalian mandiri dengan bekerja. Anak-anak muda sudah seharusnya giat bekerja, apapun pekerjaannya. Namun, sebaiknya bekerja itu bukan sekedar apa, di mana, dan berapa? apa pekerjaannya? di mana bekerjanya? dan berapa penghasilannya?"

Memang benar, bekerja bukan soal uang. Tapi faktanya orang bekerja untuk mencari uang. Ada sedikit perbedaan antara saya dan pak tua dalam melihat pekerjaan. Di Usia kami, di mana idealisme dijunjung, pekerjaan akan soal di mana, apa, dan berapa salary-nya? itu membuat kami exist atau mengada.

"Om, menurut saya... mengada itu selalu butuh proses, tidak pernah sama. Usia seperempat abad, akan meng-ADA ketika pekerjaan kami itu tentang apa? di mana? dan berapa? tetapi mungkin tidak di usia yang lebih tua di mana pekerjaan itu mengenai kenyaman"

Pria tua itu tersenyum, "anak muda memang punya analisis yang lebih tajam" begitu beliau menjawab pernyataan saya. Dengan lembut dia menatap saya, seolah saya adalah cucunya sendiri. Tatapannya penuh kehangatan dan kebijaksanaan orang besar.

"Kamu tidak salah mas, malah mungkin benar. Hanya sedikit saja catatan.. sedikit saja. Eksistensi apa yang lebih tinggi selain kembali ke kodrat kita sebagai manusia. Manusia yang menghambakan dirinya pada Tuhan. Agama saya mengajarkan tentang hal tersebut, carilah pekerjaan di mana kamu melihat Tuhan di sana."

Aku melupakan poin itu, aku lupa soal eksistensi sejati manusia. Kembali ke fitrahnya. sebagai manusia yang menghamba kepada-Nya dan memenuhi eksistensi kita... bahkan menurutku itu eksistensi tertinggi.

"Coba kita lihat KOPI ini" Pria tua itu menunjuk kopi kamii.
"Dia diciptakan Tuhan untuk manusia. Ditanam dan dipetik untuk diambil manfaatnya. Namun, ketika itu menjadi sebuah persoalan BISNIS dan soal citarasa saja, kopi akan menjadi sesuatu yang mahal, gaya hidup, dan eksistensi modern tentang minuman penuh citarasa. Lupa pada kodratnya, KOPI itu diciptakan dan dimanfaatkan untuk manusia agar merasakan nikmat Tuhan, bukan eksistensi ekslusivitas.

Kami terhenyak, pembahasan kami cepat beralih, namun aku dapat pointnya. Sejatinya, apapun itu, eksistensi tertinggi adalah ketika kita melihat Tuhan dari banyak hal yang dilakukan, dapatkan, dan kerjakan.

"demikian pun dengan bekerja, saya melukis. bukan semata untuk menghasilkan karya dan penghasilan. Saya melukis untuk melihat keagungan Tuhan, menyadari betapa kecilnya saya sebagai manusia. Hal itu yang menurut saya, menjadikan seorang seniman memiliki spiritualitas yang baik. Karya-karyanya akan bertema tentang kehidupan, keselarasan, dan Tuhan. Spiritualitas itu pula yang membawa kepekaan seniman terhadap realitas sosial, sehingga seniman itu kritikus yang baik melalui karyanya

Aku mulai paham. Ketika seorang bankir melihat Tuhan di dalam pekerjaannya. Dia akan bekerja dengan tanggungjawab, bukan sekedar mencari kepuasan lahiriah, namun juga kepuasan batin. Dia akan menjadi bankir yang jujur, memperlihatkan kuasa Tuhan bahwa harta tidak disimpan untuk di bawa mati. Namun, disimpan untuk investasi masa depan. Atau ketika seorang arsitek menciptakan konsep rumah hunian yang bersahaja, nyaman, dan hangat untuk sebuah keluarga, bukan sekedar mengenai kemewahan dan budget yang besar saja, namun mengenai sebuah rumah nyaman untuk mendukung terciptanya keluarga yang sakinah. Hal tersebut tentu saja disebabkan karena ia melihat Tuhan dalam pekerjaannya.

Andai semua manusia menyadari kodratnya. Andai mahasiswa menyadari tanggungjawab akan ilmunya karena melihat Tuhan ada dibalik setiap ilmu yang ia miliki. Tidak perlu susah susah bangsa ini mencari tenaga asing karena setiap orang berilmu di Indonesia sadar akan tanggungjawab ilmunya terhadap Tuhan.
Andai manusia menyadari eksistensi tertinggi adalah menghamba pada-Nya, pemilik segala-Nya. Saya rasa tidak akan ada malpraktek, korupsi, kecurangan ujian masuk, dan banyak hal lainnya yang saat ini menjadi masalah karena orang pintar hanya meng-ADA sebatas di dunia saja.

Aku dan temanku bersyukur, bertemu dengan Pria tua yang mengajarkan kami soal Tuhan, Kopi, Lukisan, dan Senja. Mengajarkanku untuk tidak hanya menjadi mahasiswa, namun juga manusia yang punya tanggungjawab membagi ilmunya, mengkaryakan ilmunya untuk kebermanfaatan. Bukan hanya status mahasiswa  yang dibanggakan dalam jejaring sosial dan pertemuan keluarga saja.

Sekali lagi aku belajar, tentang kehidupan dari KOPI dan dari seorang pria tua. Ditemani syahdunya senja di ufuk yang memancarkan rona warna keindahan.
Aku bersyukur, Tuhan mengingatkanku tentang hakikat manusia dengan cara yang indah. 

FILOSOFI KOPI #2

Minggu, 19 Januari 2014

FILOSOFI KOPI #2


Kopi... adalah teman bagi mereka pencari makna, penikmat senja, dan petualang hidup
realitas yang pahit, diseduh dengan "panas" perjuangan untuk sebuah citarasa kehidupan.
yah.. itulah kopi.. teman bagi mereka pencari makna..
(notalone99, 2014)


Ada sebuah ungkapan bahwa Tuhan menciptakan sesuatu dengan alasan, salah satunya adalah agar manusia belajar daripada apa yang diciptakan untuknya. Sama seperti FILOSOFI KOPI #1, pada tulisan kali ini saya ingin mengajak pembaca untuk "belajar" dari sesuatu yang sangat dekat dengan kita, sesuatu yang selalu menginspirasi, sesuatu yang selalu menjadi teman bagi kebanyakan mereka yang mau belajar soal kehidupan. 
Ada sebuah FAKTA yang saya tidak tahu sejak kapan dipublikasikan, namun faktanya... Setiap penulis hampir selalu menghabiskan 2 jam waktunya di cafe dengan secangkir kopi. Entah untuk menulis atau hanya sekedar membaca atau hanya mengobrol dengan relasi. FAKTA itu membuktikan bagaimana kopi begitu dekat dengan anda yang ingin mencari makna.

Pencari makna.... terdengar berat, tapi memang manusia "hidup" untuk mencari makna seperti ungkapan Life to Learn and Learn to life  , kita "belajar" tentang bagaimana memaknai setiap sudut kehidupan kita dan menjadikannya pelajaran untuk menjalani kehidupan selanjutnya. 

Pencari makna, tentu sudah barang lama kita melihat bagaimana "kopi" tidak hanya disajikan secara Espresso saja, banyak jenis minuman kopi yang bisa ada pesan di cafe coffee di mana pun, seperti cappucino, caffelatte, macciato, double espresso, americano, coffeemix, frappuccino, dan banyak lainnya yang sudah banyak anda tahu. Dan tahukan ada, bahwa kopi juga banyak disajikan dalam berbagai bentuk makanan... salah satu yang sudah banyak orang kenal adalah "TIRAMISU"... Singkatnya, banyak sekali makanan dan minuman yang berasal dari kopi... dan tahukah anda, bahwa minuman atau makanan yang dicampur dengan kopi tidak pernah menghilangkan CITARASA khas dari kopi itu sendiri. Itu lah KOPI..

Kopi begitu khas dan kokoh pada jatidirinya, bahwa dia adalah kopi dengan aroma yang khas, sekalipun dia mendapat campuran dari berbagai bahan lain. Dia tidak pernah kehilangan jati dirinya. Itu lah yang kebanyakan orang "LUPA", jatidiri tanpa perlu bersinggungan karena perbedaan. Banyak sekali kasus yang tentu saja sudah sering anda dengar, kasus berkedok Agama, kasus berkedok suku, dan kasus lain yang sifatnya RASIS. Dalam kasus itu, kebanyakan disebabkan karena adanya anggapan bahwa perbedaan akan mengancam eksistensinya, bahwa perubahan akan berbahaya bagi kelangsungan jatidirinya. sehingga terjadi hal-hal yang sifatnya AGRESIF. Mari kita tengok kopi, sekalipun dicampur dengan berbagai bahan, dia tidak serta merta membuat perpaduan yang bikin anda ENEG, atau kemudian mendominasi dan menjadikan rasa makanan/ minuman tersebut menjadi Aneh - tentu saja dengan takaran tertentu - Itu lah kopi.
KOPI tidak pernah labil, dia dewasa dalam menunjukkan eksistensinya.. menganggap Perubahan dan Perbedaan sebagai sesuatu yang justru menguatkan JATIDIRI-nya, bukan sebuah BAHAYA yang akan menghilangkan kedewasaannya, membuatnya lupa diri, serta membuatnya menjadi labil. Itu lah kopi.

Penulis berusaha untuk tidak munafik, bahwa sesuatu yang dirasa mengancam akan memunculkan respon bertahan, namun cukup dewasa kah kita sehingga menjadikannya sebagai sesuatu yang justru menguatkan SELF, memperluas sudut pandang SELF, dan mempercantik perilaku SELF. 

KOPI... citarasa kehidupan, ciptaan Tuhan yang senantiasa menemani mereka pencari makna. Pencari makna yang cukup dewasa untuk menjadi manusia seutuhnya, mengakui kelemahannya, namun pribadi kuat dalam memaknai hiruk pikuk kehidupan dan bersyukur daripadanya.

"I have measured out my life with coffee spoons"- TS Eliot