Orang sering tidak bisa melihat apa yang tampak, dengan mata hanya akan sebatas permukaan... dengan mata hanya akan sebatas cover.... dengan mata hanya sebatas luaran...
mata membatasi imajinasi.... Dengarkan, perhatikan, dan rasakan, seandainya semua itu dicari penghubungnya, mungkin berujung pada HATI....
Cuaca menjadi susah diprediksi, meskipun alam masih memberi tanda. Musim penghujan dan musim panas masih berputar bergantian, namun pergeseran waktunya menjadi susah diprediksi buat mereka orang yang awam. Ada hujan ditengah panas, namun ada terik menyapa di musim hujan.
Hujan perlahan menjadi deras, menumpahkan air ke bumi penuh rasa syukur, aku sudah lama tidak hujan-hujan, namun alangkah bodohnya ketika bermain dengan hujan sambil bawa laptop yang tinggal satu-satunya. Sedikit kecewa, namun tidak menjadi bodoh pun sedikit menyenangkan. Aku memutuskan untuk berhenti di Angkringan.
"Jawah mas, mampir mriki" sebuah senyum ramah dari sang empunya angkringan meluncur dengan lembutnya, "nggih pak, mengkeh dak flu nek udan-udan" jawabku bercanda. Ada catatan di sini, sesuatu yang sikapnya spontan sering kali menyenangkan, karena spontan itu bisa jadi jujur, bukan sesuatu yang direncanakan atau dibuat-buat, dan itu menyenangkan. Menyenangkan ketika tanpa tujuan kemudian kita mampir disebuah angkringan dan diterima dengan nyaman di sana, dan itu tidak aku rencanakan...
"mau minum apa mas?" beliau melanjutkan. Begitu kalimat tersebut beliau lontarkan, aku sekilas melihat bungkusan daun pisang yang menandakan ada tape di sana. Sedikit melihat kembali untuk memastikan, seraya mengangkatnya, aku tersenyum dan berkata "tape panas, bapak" . Bapaknya tersenyum dibalik kerut di wajahnya. Ada dua hal yang menyenangkan di sini. Pertama beliau tersenyum, meskipun senyumnya banyak mengandung arti namun binar matanya menunjukan bahwa beliau menyukai saya sebagai pelanggan. Kedua saya menjadi senang, bagaimanapun aku terasa menyenangkan bila melihat orang tersenyum karena kita, ada perasaan senang dan bercampur haru. Inilah angkringan, banyak sekali cerita tidak terduga yaang sering kali menginspirasi. Banyak sekali pola tingkah interaksi di sana, mungkin ada kepalsuan, namun ada rasa nyaman di sana dan kenyamanan adalah hal yang mahal, namun angkringan menjualnya seharga nasi kucing dan teh panas.
Segelas tape panas, disajikan beliau perlahan. Warnanya hijau bening, tidak pekat, tapenya tidak begitu hijau namun agak kekuningan, atau sering dibilang hijau muda sekali. Aroma tapenya sangat terasa, layaknya alkohol, aroma tape ini juga pekat, namun harum dan enak mengundang selera.
Aku cukup lama memperhatikan gelasku, sampai-sampai empunya angkringan membuyarkan pengamatanku dengan halus . "Tapenya asli, airnya panas pas, dan gelasnya bersih, wanginya pasti terasa sekali" senyum sumringah ala-ala seles promosi nampak dibalik raut wajah beliau. dan aku sepakat. inilah tape panas yang sebenarnya. Kenapa sebenarnya? karena tidak banyak penjual angkringan yang menjual tape ketan, dan kalaupun ada, ketan tapenya itu tidak mengundang selera, tidak asli hijaunya agak sedikit tua, dan baunya tidak begitu enak. Tape panas ini lain daripada yang lain, menurutku. "tidak sembarangan itu mas, saya tidak punya banyak, hanya beberapa saja. Tidak cukup waktu buat bikinnya. Beruntung mas datang ke sini tapenya pas lagi ada" beliau menambahkan. Berarti tape ini adalah bikinan tangan beliau.. WOW....
"iyah pak, rasanya lain. Penuh kenikmatan, tidak menyesal saya tidak jadi hujan-hujan. malah dapet tape panas uenak" saya berusaha menimpali usaha bapaknya.. Saking nikmatnya minumanku, sampai-sampai aku baru tersadar kalau tidak sendiriaan sebagai pelanggan, ada seorang bapak-bapak juga sedang manikmati tape panas. Mungkin mendengar celotehku, beliau menjadi terkekeh, sekaligus memberi tanda kehadiran baliau di sana. "mas ini bisa aja. jenengan mahasiswa mana mas?" tanya beliau. "oh, saya mahasiswa kampus "itu" pak" sebagai catatan, kata itu menunjukan kampusku yang hanya satu kilometer dari sana. "jurasan apa mas? semester berapa? kok rapih pakaiannya? apa jenengan sambil kerja nggih?" pak angkringan menimpali dengan berondongan pertanyaan. Aku sedikit kaget, seperti "kepo" sekali beliau. sedikit menghela nafas kemudian aku menjawab "mboten pak, saya hanya kuliah saja. Masih semester satu di S2 Psikologinya" jawabku bangga.
"oalah jenengan tuh S2 toh, tak kira masih S1, pantes lah kalau pakaiannya rapih" sahut pak angkringan. Obrolan pun berljanjut hangat, berawal dari tape hangat sampai ngalor ngidul membahas pakaian. Ada sebuah kalimat menggelitik dari bapak pelanggan
"apakah sebuah pakaian itu menunjukan profesionalitas? dan atau hanya membedakan sebuah status pekerjaan?"
yah, menurut kata orang. pasti dua-duanya. Untuk membedakan pekerjaan namun juga menunjukan profesionalitas. Beliau membuat pembanding yang mungkin tidak sebanding, namun ada hal dibalik itu semua.
"bagaimana kalau mereka yang berdasi dan duduk di ruang AC dengan kursi nyaman tetapi korupsi? dibandingkaan dengan para tukang becak yang memakai celena pendek dan baju compang camping tetapi bekerja setulus hati. Atau dokter yang berjas putih tetapi membuat pasien lama menunggu sebanding dengan penjual angkringan yang menyajikan gelas pun dengan sopan? Mana yang profesional? jadi sebenarnya profesional itu apa?"
mmm....... sebuah perenungan.... to be continued..
0 Comment to "Angkringan... Di Balik Cerita Tape Panas"
Posting Komentar