We're out of coffee....
How Do You Feel When There Is No Coffee? DEPRESSO!
Sore itu, senja perlahan menghambur ke horizon. Aku memutuskan untuk menunggu lebih lama supaya bisa nge-capture momen blue hour,
BLUE HOUR adalah waktu di mana senja telah tenggelam dan menyisakan langit yang berwarna biru gelap sebagai langit peralihan siang dan malam. -6 sampai -4 derajat sebelum horizon kalau kata Google.
Aku pun tidak tahu pastinya -6 sampai -4 derajat tuh seberapa, cukup dirasakan saja. Learning by experienced. Lagian, angka itu soal kesepakatan, bukan kepastian. Kepastian itu soal ketetapan hati. Semakin tetap hati kita, semakin pasti pula apa yang kita rasakan.
BLUE HOUR adalah waktu di mana senja telah tenggelam dan menyisakan langit yang berwarna biru gelap sebagai langit peralihan siang dan malam. -6 sampai -4 derajat sebelum horizon kalau kata Google.
Aku pun tidak tahu pastinya -6 sampai -4 derajat tuh seberapa, cukup dirasakan saja. Learning by experienced. Lagian, angka itu soal kesepakatan, bukan kepastian. Kepastian itu soal ketetapan hati. Semakin tetap hati kita, semakin pasti pula apa yang kita rasakan.
Butuh kesabaran untuk memotret alam, bukan perkara yang mudah.
Alam punya aktivitasnya sendiri. Teratur, seimbang, namun dinamis menyesuaikan kehendak Tuhan. Apakah hujan, apakah pelangi, atau kah lembab, menyengat, semua sudah ada aturannya, dan itu HAK TUHAN untuk mengaturnya, Itu lah sebabnya alam memberikan banyak pelajaran tentang Ketuhanan. Oleh karena itu, seharusnya para pecinta alam semakin mencintai Tuhan, akan jadi ironis apabila tidak demikian.
Alam punya aktivitasnya sendiri. Teratur, seimbang, namun dinamis menyesuaikan kehendak Tuhan. Apakah hujan, apakah pelangi, atau kah lembab, menyengat, semua sudah ada aturannya, dan itu HAK TUHAN untuk mengaturnya, Itu lah sebabnya alam memberikan banyak pelajaran tentang Ketuhanan. Oleh karena itu, seharusnya para pecinta alam semakin mencintai Tuhan, akan jadi ironis apabila tidak demikian.
Akhirnya yang ditunggu hadir juga. Warna biru peralihan, menghadirkan suasana yang aku sebut "feel so blue" .Jangan artikan itu MELOW,
Suasana di mana kamu merasa seolah-olah waktu dan dunia ini hanya milikmu, itulah FEEL SO BLUE.
Aku mengabadikan beberapa momen, memutar lensa, menyesuaikan apperture, mencari angle terbaik, menyetting gearku. Mengambil momen terbaik dalam batas waktu yang relatif singkat. Seolah-olah aku dikejar waktu. Waktu tidak pernah menunggu dia berjalan, bergerak cepat. Persepsi yang membuat kita seolah-olah MENUNGGU waktu, padahal ia sebaliknya.
BLUE HOUR pun menjadi malam, menciptakan kepuasan. Kepuasan yang membuatku ingin melengkapinya dengan NGOPI. Pergi lah aku ke warung kopi (baca coffeeshop) dan berharap malam itu menjadi lengkap karena ada KOPI dan INSPIRASI.
Sampai lah aku pada sebuah coffeeshop berukuran kecil, tidak lebih dari 5x3 meter persegi. Interior desain berbahan dasar kayu, dengan lapisan plitur yang terkesan natural. Desain seperti itu memang sedang IN. Semua terkesan sederhana. jejeran kaleng kaleng kaca berisi kopi, tatanan gelas dan botol syrup khas cafe-cafe, serta tempat duduk yang memang terkesan santai untuk mengobrol. Lebih cantik lagi dengan adanya rak besar yang berisi varian kopi, baik secara jenis, kemasan, ukuran, maupun pernak pernik warung kopi dari sebuah eksportir kopi yang lumayan besar di indonesia.
Aku mendatangi barista, seorang perempuan berkrudung menyapaku dan menawarkan beberapa jenis kopinya. Syphone Gayo yang akhirnya aku pilih.
Kopi memang ada hanya ada dua, ROBUSTA atau ARABICA, namun dari segi proses pematangan, pemasakan, dan atau lokasi tanam membuat varian kopi jadi beraneka, salah satunya Gayo. Karakter aromanya yang kuat,wangi, spicy, body yang lembut membuat gayo selalu menjadi pilihanku. Belum bisa aku benar-benar beralih dari Gayo. Padahal banyak jenis kopi lain yang karakternya hampir sama, ciwidey, temanggung, guatemala.
Barista perempuan itu mendatangiku, membawakan perlengkapan seperti tabung praktikum untuk memproses kopi yang aku kenal dengan istilah syphone. Warung itu sepi, hanya ada aku sebagai pengunjung pagi itu. Seorang pria tinggi, badannya gempal, berbaju batik mendatangiku.
"Suka kopi mas?" tanyanya menyapaku
"Addict mas" balasku tersenyum
"Pertama kali ke sini? baru tau atau memang baru sempat nyoba?"
"ini pertama kali, baru tau ada warung ini"
Pria itu pun bercerita tentang warung tersebut. Ternyata warungnya sudah setahun berdiri, namun sepi pengunjung karena faktor marketing yang kurang mantap katanya. Alasan tersebut yang membuat laki-laki tadi dipindahkan dari Jakarta ke Jogja. Warung Kopi itu ternyata ada di beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Pekanbaru. Dia mulai bercerita berbagai pengalamannya sebagai manajer. Aku takjub, banyak sekali wejangan yang bisa kita peroleh dari orang ini. Tampaknya pun, dia sangat menikmati bercerita. Sampai akhirnya ada kalimatnya yang menggelitik.
Aku tergelitik, aku belum pernah mendengar ada perbandingan yang demikian. Aku bertanya padanya "seberapa KOPI kah perempuan itu?" konyol kedengarannya, namun laki-laki itu bisa memahami pertanyaanku.
"itu lah uniknya... Perempuan sama halnya dengan minum kopi.. Pahit, manis, asem yah kita telen juga kan sebagai laki-laki"
Aku mulai paham, memang benar apa yang disampaikan laki-laki itu. Benar bahwa apapun itu, kami pria yang akan mengejar perempuan. Mau jaman emansipasi seperti apa pun ke depan besok. Kebanyakan perempuan pasti akan minta dikejar. Dan layaknya KOPI, pahit manis asem rasanya, sebagai laki-laki tetap kami telan.
Menurutku, itu lah gambaran penghargaan tertinggi bagi perempuan... dan gambaran mengenai memilih laki-laki yang tepat.
Kopi adalah sesuatu yang merakyat namun nilai jualnya tinggi. Sama halnya dengan perempuan, dia memang banyak. namun hanya yang terpilih yang memiliki penghargaan tertinggi.
Demikian juga dengan laki-laki. Banyak laki-laki ganteng, kaya, pintar, namun bukan itu yang jadi "point" utama buat bisa memperlakukan perempuan dengan tepat! Dan hanya dia yang bisa memperlakukan perempuan dengan tepat yang akan bisa menikmati AROMA CITARASAnya.
"barista pun kebanyakan lulusan SMA, namun justru pengalaman, keinginan belajar yang membuatnya semakin tahu cara memperlakukan kopi. Maka jatuh bangun lah mengejar perempuan karenanya kamu akan semakin tahu cara memperlakukannya dengan benar. Dan mulai lah itu dari Ibumu sebagai perempuan"
Kalimat di atas lah yang memperjelas semuanya. memperjelas kekedudukan wanita dalam metaforanya sebagai KOPI.
Dan akhirnya, segelas espresso dan Gayo syphone terhitung gratis karena kami mulai akrab, dia seorang manager coffeeshop memberikan banyak sekali pemahaman baru tentang hidup, usaha, kerja keras, dan tentu saja tentang KOPI. Pemaknaan terhadap KOPI dari seseorang yang sudah berkecimpung dengan dengan KOPI selama lebih dari 10 tahun, sedangkan usianya hanya terpaut 10 tahun dari angka seperempat abad. Amazing!!
Terimakasih Tuhan karena engkau mempertemukanku dengan orang hebat, yang menambah wawasan hidupku dan juga tentang kopi. Terimakasih untuk seseorang yang menginspirasi judul tulisan ini. Terimakasih untuk Pak Taufiq Coffindo atas free espresso dan Mbak Hilga atas Gayo Siphone nya.
FILOSOFI KOPI #3
Suasana di mana kamu merasa seolah-olah waktu dan dunia ini hanya milikmu, itulah FEEL SO BLUE.
Aku mengabadikan beberapa momen, memutar lensa, menyesuaikan apperture, mencari angle terbaik, menyetting gearku. Mengambil momen terbaik dalam batas waktu yang relatif singkat. Seolah-olah aku dikejar waktu. Waktu tidak pernah menunggu dia berjalan, bergerak cepat. Persepsi yang membuat kita seolah-olah MENUNGGU waktu, padahal ia sebaliknya.
BLUE HOUR pun menjadi malam, menciptakan kepuasan. Kepuasan yang membuatku ingin melengkapinya dengan NGOPI. Pergi lah aku ke warung kopi (baca coffeeshop) dan berharap malam itu menjadi lengkap karena ada KOPI dan INSPIRASI.
Sampai lah aku pada sebuah coffeeshop berukuran kecil, tidak lebih dari 5x3 meter persegi. Interior desain berbahan dasar kayu, dengan lapisan plitur yang terkesan natural. Desain seperti itu memang sedang IN. Semua terkesan sederhana. jejeran kaleng kaleng kaca berisi kopi, tatanan gelas dan botol syrup khas cafe-cafe, serta tempat duduk yang memang terkesan santai untuk mengobrol. Lebih cantik lagi dengan adanya rak besar yang berisi varian kopi, baik secara jenis, kemasan, ukuran, maupun pernak pernik warung kopi dari sebuah eksportir kopi yang lumayan besar di indonesia.
Aku mendatangi barista, seorang perempuan berkrudung menyapaku dan menawarkan beberapa jenis kopinya. Syphone Gayo yang akhirnya aku pilih.
Kopi memang ada hanya ada dua, ROBUSTA atau ARABICA, namun dari segi proses pematangan, pemasakan, dan atau lokasi tanam membuat varian kopi jadi beraneka, salah satunya Gayo. Karakter aromanya yang kuat,wangi, spicy, body yang lembut membuat gayo selalu menjadi pilihanku. Belum bisa aku benar-benar beralih dari Gayo. Padahal banyak jenis kopi lain yang karakternya hampir sama, ciwidey, temanggung, guatemala.
Barista perempuan itu mendatangiku, membawakan perlengkapan seperti tabung praktikum untuk memproses kopi yang aku kenal dengan istilah syphone. Warung itu sepi, hanya ada aku sebagai pengunjung pagi itu. Seorang pria tinggi, badannya gempal, berbaju batik mendatangiku.
"Suka kopi mas?" tanyanya menyapaku
"Addict mas" balasku tersenyum
"Pertama kali ke sini? baru tau atau memang baru sempat nyoba?"
"ini pertama kali, baru tau ada warung ini"
Pria itu pun bercerita tentang warung tersebut. Ternyata warungnya sudah setahun berdiri, namun sepi pengunjung karena faktor marketing yang kurang mantap katanya. Alasan tersebut yang membuat laki-laki tadi dipindahkan dari Jakarta ke Jogja. Warung Kopi itu ternyata ada di beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Pekanbaru. Dia mulai bercerita berbagai pengalamannya sebagai manajer. Aku takjub, banyak sekali wejangan yang bisa kita peroleh dari orang ini. Tampaknya pun, dia sangat menikmati bercerita. Sampai akhirnya ada kalimatnya yang menggelitik.
"Kopi itu layaknya perempuan" beda perlakuan beda pula hasilnya. Semua orang tau kopi, semua orang bisa belajar tentang kopi bahkan dengan cepat, namun tidak banyak yang bisa memperlakukan KOPI dengan tepat. Semua bisa bilang paham tentang perempuan, namun tidak semua dapat memperlakukannya dengan tepat"
Aku tergelitik, aku belum pernah mendengar ada perbandingan yang demikian. Aku bertanya padanya "seberapa KOPI kah perempuan itu?" konyol kedengarannya, namun laki-laki itu bisa memahami pertanyaanku.
"itu lah uniknya... Perempuan sama halnya dengan minum kopi.. Pahit, manis, asem yah kita telen juga kan sebagai laki-laki"
Aku mulai paham, memang benar apa yang disampaikan laki-laki itu. Benar bahwa apapun itu, kami pria yang akan mengejar perempuan. Mau jaman emansipasi seperti apa pun ke depan besok. Kebanyakan perempuan pasti akan minta dikejar. Dan layaknya KOPI, pahit manis asem rasanya, sebagai laki-laki tetap kami telan.
Menurutku, itu lah gambaran penghargaan tertinggi bagi perempuan... dan gambaran mengenai memilih laki-laki yang tepat.
Kopi adalah sesuatu yang merakyat namun nilai jualnya tinggi. Sama halnya dengan perempuan, dia memang banyak. namun hanya yang terpilih yang memiliki penghargaan tertinggi.
Demikian juga dengan laki-laki. Banyak laki-laki ganteng, kaya, pintar, namun bukan itu yang jadi "point" utama buat bisa memperlakukan perempuan dengan tepat! Dan hanya dia yang bisa memperlakukan perempuan dengan tepat yang akan bisa menikmati AROMA CITARASAnya.
"barista pun kebanyakan lulusan SMA, namun justru pengalaman, keinginan belajar yang membuatnya semakin tahu cara memperlakukan kopi. Maka jatuh bangun lah mengejar perempuan karenanya kamu akan semakin tahu cara memperlakukannya dengan benar. Dan mulai lah itu dari Ibumu sebagai perempuan"
Kalimat di atas lah yang memperjelas semuanya. memperjelas kekedudukan wanita dalam metaforanya sebagai KOPI.
Hanya Ayah yang tahu bagaimana menghargai istrinya dan hanya anak yang tahu bagaimana menghormati perjuangan Ibunya lah yang akan tahu bagaimana memperlakukan seorang perempuan dengan tepat!
Dan akhirnya, segelas espresso dan Gayo syphone terhitung gratis karena kami mulai akrab, dia seorang manager coffeeshop memberikan banyak sekali pemahaman baru tentang hidup, usaha, kerja keras, dan tentu saja tentang KOPI. Pemaknaan terhadap KOPI dari seseorang yang sudah berkecimpung dengan dengan KOPI selama lebih dari 10 tahun, sedangkan usianya hanya terpaut 10 tahun dari angka seperempat abad. Amazing!!
Kebayang jadinya.. seandainya kopi adalah perempuan? maka It Would Be So Depresso When There Is No Coffee, karena perjuangan seorang Ibu lah, anak laki-lakinya bisa menjadi sosok yang tangguh.
Terimakasih Tuhan karena engkau mempertemukanku dengan orang hebat, yang menambah wawasan hidupku dan juga tentang kopi. Terimakasih untuk seseorang yang menginspirasi judul tulisan ini. Terimakasih untuk Pak Taufiq Coffindo atas free espresso dan Mbak Hilga atas Gayo Siphone nya.
FILOSOFI KOPI #3

0 Comment to "FILOSOFI KOPI #4 No Coffee Depresso"
Posting Komentar