Jumat, 11 Juli 2014

FILOSOFI KOPI #3 Secangkir Kopi, Pria Tua, Dan Senja

by snapshot morning glory

Dia yang mulai renta, dengan  lipatan kerut pada wajah dan senyumnya
Antara tua dan muda bertukar cerita, berbagi makna... menguntai canda, mengurai kekakuan
Cerita tentang karya seorang Pak Tua, Goresan idealisme dan percampuran warna tentang dunia
Memunculkan kekaguman akan kebijaksanaan.. Pak Tua, sang penikmat kopi dan senja


Senja dikala itu.... beliau tampak sederhana dengan kaos putih, kacamata bulat model lama, jeans belel. Lengkap dengan aksesorisnya, tongkat kayu berwarna coklat tua dengan guratan kayu yang tampak apik. 

Senja dikala itu... campur aduk warna merah, oranye, kuning, biru, dan abu-abu...Begitu damai... Aroma nikmat rokok kretek merek ternama yang asing bagi kebanyakan orang, namun tidak bagi mereka perokok sejati, menambah syahdu senja dikala itu.

Seorang Pria tua itu menyapaku, berbicara tentang rokokku. dari situ lah pembicaraan kami tentang hal yang tidak aku sangka berawal.

"rokok ini... di masa muda saya, ia berjaya. Hanya tuan muda saja yang bisa menikmatinya" ujar pria tua lembut.

Aku kaget, temanku mengenalnya. Mereka berbincang sejenak tentang pertemuan yang baru 5 menit lalu mereka alami. Saat temanku memesan secangkir kopi jahe.

"ahh... mari om, silahkan duduk bersama kami"  temanku mempersilahkannya, menarik kursi untuk beliau dan mulai menawarkan rokokku padanya.
Aku hanya tersenyum, mengamati beliau dan menarik kesimpulan cepat bahwa beliau adalah seniman.

Pria itu tersenyum... ia mengaku kagum dengan kami. Anak muda yang santun kata beliau.
Di zaman sekarang ini, di mana tata krama adalah sajian mahal, namun dijual gratis pun ditolak mentah-mentah.
Beliau duduk, menolak rokokku dengan halus, dan mulai memegang tongkatnya ditengah-tengah dagunya. Bergumam tentang aku dan temanku, dua anak muda yang beliau rasa punya selera untuk menikmati senja.
Aku memang suka dengan senja, warna dan rasanya membuat kita berpikir, waktu yang pas untuk merenung, tentang makna kehidupan yang kita semua tahu tidak lah selamanya. 

"Jarang ada pemuda seperti kalian, namun nampaknya kalian sudah tidak muda, hanya belum cukup umur saja untuk dibilang tua"  kami bertiga tertawa.

"iya om, kami belum bisa dibilang tua, namun wajah kami nampaknya sudah tidak muda, seperempat abad tepatnya" temanku berujar

"bekerja di mana?" 

"kami pengangguran om. masih belum lulus kuliah. betah jadi mahasiswa" kataku membuka suara

"mahasiswa, enak soalnya yah? Menyandang gelar Maha, meskipun sebenarnya cuma siswa. Namun, cukup bisa dibanggakan lah yah? kenapa belum selesai? apakah sibuk bekerja? 

"hanya teman saya ini om yang bekerja, saya sendiri sudah cukup sibuk memikirkan kuliah, tidak sanggup rasanya menambah beban dengan bekerja" 

"Ahhh... saya paham. Saya pun demikian. Hanya saja, hobi dan pekerjaan saya selaras. Itu membuatnya sangat berharga sehingga ringan sekali rasanya"

Beliau adalah seniman yang karyanya banyak tersimpan diberbagai geleri serta seorang kurator untuk museum ternama di Jakarta, setidaknya itu hasil yang aku temukan setelah meng-googling namanya. Tidak disangka kami bertemu beliau, di tempat sederhana dengan hamparan luas keindahan.

"Bekerja itu bukan melulu soal uang, bekerja itu soal meng-ADA. Terlebih di usia kalian memang sudah sepantasnya kalian mandiri dengan bekerja. Anak-anak muda sudah seharusnya giat bekerja, apapun pekerjaannya. Namun, sebaiknya bekerja itu bukan sekedar apa, di mana, dan berapa? apa pekerjaannya? di mana bekerjanya? dan berapa penghasilannya?"

Memang benar, bekerja bukan soal uang. Tapi faktanya orang bekerja untuk mencari uang. Ada sedikit perbedaan antara saya dan pak tua dalam melihat pekerjaan. Di Usia kami, di mana idealisme dijunjung, pekerjaan akan soal di mana, apa, dan berapa salary-nya? itu membuat kami exist atau mengada.

"Om, menurut saya... mengada itu selalu butuh proses, tidak pernah sama. Usia seperempat abad, akan meng-ADA ketika pekerjaan kami itu tentang apa? di mana? dan berapa? tetapi mungkin tidak di usia yang lebih tua di mana pekerjaan itu mengenai kenyaman"

Pria tua itu tersenyum, "anak muda memang punya analisis yang lebih tajam" begitu beliau menjawab pernyataan saya. Dengan lembut dia menatap saya, seolah saya adalah cucunya sendiri. Tatapannya penuh kehangatan dan kebijaksanaan orang besar.

"Kamu tidak salah mas, malah mungkin benar. Hanya sedikit saja catatan.. sedikit saja. Eksistensi apa yang lebih tinggi selain kembali ke kodrat kita sebagai manusia. Manusia yang menghambakan dirinya pada Tuhan. Agama saya mengajarkan tentang hal tersebut, carilah pekerjaan di mana kamu melihat Tuhan di sana."

Aku melupakan poin itu, aku lupa soal eksistensi sejati manusia. Kembali ke fitrahnya. sebagai manusia yang menghamba kepada-Nya dan memenuhi eksistensi kita... bahkan menurutku itu eksistensi tertinggi.

"Coba kita lihat KOPI ini" Pria tua itu menunjuk kopi kamii.
"Dia diciptakan Tuhan untuk manusia. Ditanam dan dipetik untuk diambil manfaatnya. Namun, ketika itu menjadi sebuah persoalan BISNIS dan soal citarasa saja, kopi akan menjadi sesuatu yang mahal, gaya hidup, dan eksistensi modern tentang minuman penuh citarasa. Lupa pada kodratnya, KOPI itu diciptakan dan dimanfaatkan untuk manusia agar merasakan nikmat Tuhan, bukan eksistensi ekslusivitas.

Kami terhenyak, pembahasan kami cepat beralih, namun aku dapat pointnya. Sejatinya, apapun itu, eksistensi tertinggi adalah ketika kita melihat Tuhan dari banyak hal yang dilakukan, dapatkan, dan kerjakan.

"demikian pun dengan bekerja, saya melukis. bukan semata untuk menghasilkan karya dan penghasilan. Saya melukis untuk melihat keagungan Tuhan, menyadari betapa kecilnya saya sebagai manusia. Hal itu yang menurut saya, menjadikan seorang seniman memiliki spiritualitas yang baik. Karya-karyanya akan bertema tentang kehidupan, keselarasan, dan Tuhan. Spiritualitas itu pula yang membawa kepekaan seniman terhadap realitas sosial, sehingga seniman itu kritikus yang baik melalui karyanya

Aku mulai paham. Ketika seorang bankir melihat Tuhan di dalam pekerjaannya. Dia akan bekerja dengan tanggungjawab, bukan sekedar mencari kepuasan lahiriah, namun juga kepuasan batin. Dia akan menjadi bankir yang jujur, memperlihatkan kuasa Tuhan bahwa harta tidak disimpan untuk di bawa mati. Namun, disimpan untuk investasi masa depan. Atau ketika seorang arsitek menciptakan konsep rumah hunian yang bersahaja, nyaman, dan hangat untuk sebuah keluarga, bukan sekedar mengenai kemewahan dan budget yang besar saja, namun mengenai sebuah rumah nyaman untuk mendukung terciptanya keluarga yang sakinah. Hal tersebut tentu saja disebabkan karena ia melihat Tuhan dalam pekerjaannya.

Andai semua manusia menyadari kodratnya. Andai mahasiswa menyadari tanggungjawab akan ilmunya karena melihat Tuhan ada dibalik setiap ilmu yang ia miliki. Tidak perlu susah susah bangsa ini mencari tenaga asing karena setiap orang berilmu di Indonesia sadar akan tanggungjawab ilmunya terhadap Tuhan.
Andai manusia menyadari eksistensi tertinggi adalah menghamba pada-Nya, pemilik segala-Nya. Saya rasa tidak akan ada malpraktek, korupsi, kecurangan ujian masuk, dan banyak hal lainnya yang saat ini menjadi masalah karena orang pintar hanya meng-ADA sebatas di dunia saja.

Aku dan temanku bersyukur, bertemu dengan Pria tua yang mengajarkan kami soal Tuhan, Kopi, Lukisan, dan Senja. Mengajarkanku untuk tidak hanya menjadi mahasiswa, namun juga manusia yang punya tanggungjawab membagi ilmunya, mengkaryakan ilmunya untuk kebermanfaatan. Bukan hanya status mahasiswa  yang dibanggakan dalam jejaring sosial dan pertemuan keluarga saja.

Sekali lagi aku belajar, tentang kehidupan dari KOPI dan dari seorang pria tua. Ditemani syahdunya senja di ufuk yang memancarkan rona warna keindahan.
Aku bersyukur, Tuhan mengingatkanku tentang hakikat manusia dengan cara yang indah. 

FILOSOFI KOPI #2