Jumat, 26 Oktober 2012

Angkringan... Cerita di Balik Tape Panas 2

bagaimana kalau mereka yang berdasi dan duduk di ruang AC dengan kursi nyaman tetapi korupsi? dibandingkan dengan para tukang becak yang memakai celena pendek dan baju compang camping tetapi bekerja setulus hati. Atau dokter yang berjas putih tetapi membuat pasien lama menunggu sebanding dengan penjual angkringan yang menyajikan gelas pun dengan sopan? Mana yang profesional? jadi sebenarnya profesional itu apa?

Kalimat itu mengusik dan menggugah gairahku untuk berpikir, yah... saya sepakat memang tampak luaran alias pakaian bukan segala-galanya, dan mungkin sebagian orang akan setuju akan hal itu. Namun, yang menjadi pertanyaanku, kenapa sebagian dosen dan mungkin banyak orang tua beralasan bahwa PAKAIAN merupakan Bagian dari PROFESIONALITAS seseorang. why?? "jederrrrrrrr" suara petir menyambar nyambar dari langit dan bumi memunculkan aroma sedap yang tidak bisa dituliskan bagaimana baunya.

"apakah profesional itu sekedar baju mas?" bapak penikmat tape itu meneruskan. "saya juga tidak begitu yakin, tetapi apakah mungkin bapak? dokter ke rumah sakit atau buka praktek menggunakan tanktop? atau semacam kaos singlet? saya rasa juga tidak mungkin itu." aku mencoba buat rasional. 
"Yah yah yah, itu memang benar mas. Saya sepakat, tetapi kenapa tidak kalau perlu? bayangkan kalau ada pasien kondisi darurat malam-malam datang ke rumahnya, apa iyah dokternya harus berganti baju dinas dulu? saya rasa itu juga tidak baik."  "GLEK" rasanya seperti tercekik, benar juga bapak ini pikirku. Jadi apa sebenarnya kata PROFESIONAL dan apakah pakaian berhubungan dengan itu.
"mmm... sudah mas.. Jangan terlalu dipikirkan. Mungkin saya cuma ngelantur aja" bapak itu tersenyum. Aku yang semacam kacau, malu bercampur dengan rasa ingin tahu, dan kecewa. kenapa dosen dan semua yang memberitahuku bahwa harus bepakaian agar terlihat profesional tidak pernah memberi tahu hal ini. 

"mas, berpakaian pada dasarnya hanya untuk menutupi dari malu dan melindungi dari cuaca. tetapi jaman sekarang menjadi lain, karena esensinya semua sama di mata sang kholiq bukan pakaian yang membedakan kita tetapi amalan" tapi sekarang berubah menjadi banyak fungsi. Fungsi pembeda, status sosial, fungsi gaya. yah banyak fungsi. dan kadang kita jadi lupa. Aku cuma ngangguk ngangguk. lidahku kelu, dan salivaku seperti terhambat untuk memproduksi air liur. kaku dan tidak bisa berujar apa-apa.

Secara pribadi, aku juga berpendapat sama dengan si Bapak. Esensi berpakaian adalah menutupi kemaluan, jadi kalau sudah berpakaian tapi kok masih melakukan hal-hal memalukan, mending tidak usah berpakaian. itu yang pertama.

Kedua, "KESOPANAN" berpakaianlah sesuai dengan kesopanan yang ada di dalam hati dan jujur lah untuk bisa sopan. Jangan karena diundang makan-makan pejabat jadi harus merelakan banyak uang untuk berpakaian mahal. Jadi berpakaian lah sesuai konteksnya dengan niat yang sesuai pula. Karena sebuah perilaku bisa jadi terhitung amalan seandainya niatnya benar.

Ketiga, yang membuat pakaian menjadi bagian dari profesionalisme ada sebuah gengsi dari masing-masing profesi. Dokter merasa perlu dibedakan dengan pasiennya dan direktur merasa perlu dibedakan dengan bawahannya. Jadi kalau dalam konteks yang benar, berlaku lah profesional tanpa harus menunjukan "perbedaan" dengan pakaiannya yang digunakan. Bagaimana pun arti profesional adalah "sesuai dengan profesinya" dalam hal ini yang saya maksud adalah bagaimana seseorang menjalankan tanggungjawab profesinya dengan sebenar-benarnya.

Hidup... hanyalah sebuah cover permukaan, karena esensinya adalah kita ciptaan-Nya untuk bersujud kepada-Nya
 
Hujan pun mereda, setelah membayar apa yang sudah saya asup. Saya berenjak pergi. senyum terurai penuh kepuasan. Inilah angkringan, dimana semua kalangan bisa saling bertukar pikiran, tanpa ada sekat dan status yang dibawa-bawa. Yang ada hanya bagaimana pola pikir dan perenungan masing-masing akan sebuah "konteks". Angkringan... selalu ada cerita.

Rabu, 17 Oktober 2012

Angkringan... Di Balik Cerita Tape Panas

Di balik gerimis, sebuah senyum mentari dengan guratan pelangi tengah menari-nari...

Orang sering tidak bisa melihat apa yang tampak, dengan mata hanya akan sebatas permukaan... dengan mata hanya akan sebatas cover.... dengan mata hanya sebatas luaran...


mata membatasi imajinasi....  Dengarkan, perhatikan, dan rasakan, seandainya semua itu dicari penghubungnya, mungkin berujung pada HATI....

Cuaca menjadi susah diprediksi, meskipun alam masih memberi tanda. Musim penghujan dan musim panas masih berputar bergantian, namun pergeseran waktunya menjadi susah diprediksi buat mereka orang yang awam. Ada hujan ditengah panas, namun ada terik menyapa di musim hujan.
Hujan perlahan menjadi deras, menumpahkan air ke bumi penuh rasa syukur, aku sudah lama tidak hujan-hujan, namun alangkah bodohnya ketika bermain dengan hujan sambil bawa laptop yang tinggal satu-satunya. Sedikit kecewa, namun tidak menjadi bodoh pun sedikit menyenangkan. Aku memutuskan untuk berhenti di Angkringan.

"Jawah mas, mampir mriki" sebuah senyum ramah dari sang empunya angkringan meluncur dengan lembutnya, "nggih pak, mengkeh dak flu nek udan-udan" jawabku bercanda. Ada catatan di sini, sesuatu yang sikapnya spontan sering kali menyenangkan, karena spontan itu bisa jadi jujur, bukan sesuatu yang direncanakan atau dibuat-buat, dan itu menyenangkan. Menyenangkan ketika tanpa tujuan kemudian kita mampir disebuah angkringan dan diterima dengan nyaman di sana, dan itu tidak aku rencanakan...

"mau minum apa mas?" beliau melanjutkan. Begitu kalimat tersebut beliau lontarkan, aku sekilas melihat bungkusan daun pisang yang menandakan ada tape di sana. Sedikit melihat kembali untuk memastikan, seraya mengangkatnya, aku tersenyum dan berkata "tape panas, bapak" . Bapaknya tersenyum dibalik kerut di wajahnya. Ada dua hal yang menyenangkan di sini. Pertama beliau tersenyum, meskipun senyumnya banyak mengandung arti namun binar matanya menunjukan bahwa beliau menyukai saya sebagai pelanggan. Kedua saya menjadi senang, bagaimanapun aku terasa menyenangkan bila melihat orang tersenyum karena kita, ada perasaan senang dan bercampur haru. Inilah angkringan, banyak sekali cerita tidak terduga yaang sering kali menginspirasi. Banyak sekali pola tingkah interaksi di sana, mungkin ada kepalsuan, namun ada rasa nyaman di sana dan kenyamanan adalah hal yang mahal, namun angkringan menjualnya seharga nasi kucing dan teh panas.

Segelas tape panas, disajikan beliau perlahan. Warnanya hijau bening, tidak pekat, tapenya tidak begitu hijau namun agak kekuningan, atau sering dibilang hijau muda sekali. Aroma tapenya sangat terasa, layaknya alkohol, aroma tape ini juga pekat, namun harum dan enak mengundang selera. 
 Aku cukup lama memperhatikan gelasku, sampai-sampai empunya angkringan membuyarkan pengamatanku dengan halus . "Tapenya asli, airnya panas pas, dan gelasnya bersih, wanginya pasti terasa sekali" senyum sumringah ala-ala seles promosi nampak dibalik raut wajah beliau. dan aku sepakat. inilah tape panas yang sebenarnya. Kenapa sebenarnya? karena tidak banyak penjual angkringan yang menjual tape ketan, dan kalaupun ada, ketan tapenya itu tidak mengundang selera, tidak asli hijaunya agak sedikit tua, dan baunya tidak begitu enak. Tape panas ini lain daripada yang lain, menurutku. "tidak sembarangan itu mas, saya tidak punya banyak, hanya beberapa saja. Tidak cukup waktu buat bikinnya. Beruntung mas datang ke sini tapenya pas lagi ada" beliau menambahkan. Berarti tape ini adalah bikinan tangan beliau.. WOW....

"iyah pak, rasanya lain. Penuh kenikmatan, tidak menyesal saya tidak jadi hujan-hujan. malah dapet tape panas uenak" saya berusaha menimpali usaha bapaknya.. Saking nikmatnya minumanku, sampai-sampai aku baru tersadar kalau tidak sendiriaan sebagai pelanggan, ada seorang bapak-bapak juga sedang manikmati tape panas. Mungkin mendengar celotehku, beliau menjadi terkekeh, sekaligus memberi tanda kehadiran baliau di sana. "mas ini bisa aja. jenengan mahasiswa mana mas?" tanya beliau. "oh, saya mahasiswa kampus "itu" pak" sebagai catatan, kata itu menunjukan kampusku yang hanya satu kilometer dari sana. "jurasan apa mas? semester berapa? kok rapih pakaiannya? apa jenengan sambil kerja nggih?" pak angkringan menimpali dengan berondongan pertanyaan. Aku sedikit kaget, seperti "kepo" sekali beliau. sedikit menghela nafas kemudian aku menjawab  "mboten pak, saya hanya kuliah saja. Masih semester satu di S2 Psikologinya" jawabku bangga.
"oalah jenengan tuh S2 toh, tak kira masih S1, pantes lah kalau pakaiannya rapih" sahut pak angkringan. Obrolan pun berljanjut hangat, berawal dari tape hangat sampai ngalor ngidul membahas pakaian. Ada sebuah kalimat menggelitik dari bapak pelanggan

 "apakah sebuah pakaian itu menunjukan profesionalitas? dan atau hanya membedakan sebuah status pekerjaan?" 

yah, menurut kata orang. pasti dua-duanya. Untuk membedakan pekerjaan namun juga menunjukan profesionalitas. Beliau membuat pembanding yang mungkin tidak sebanding, namun ada hal dibalik itu semua.

"bagaimana kalau mereka yang berdasi dan duduk di ruang AC dengan kursi nyaman tetapi korupsi? dibandingkaan dengan para tukang becak yang memakai celena pendek dan baju compang camping tetapi bekerja setulus hati. Atau dokter yang berjas putih tetapi membuat pasien lama menunggu sebanding dengan penjual angkringan yang menyajikan gelas pun dengan sopan? Mana yang profesional? jadi sebenarnya profesional itu apa?"

mmm....... sebuah perenungan.... to be continued..

Minggu, 07 Oktober 2012

the meaning of SELO??

SELOOOOOOOO ...

"sebuah tas" taken by fun_photo

     Begitu banyak orang bertanya pada saya? what's the meaning of selooo? saya memang sering menggunakan kata tersebut. Sejujurnya... kata tersebut bukan berasal dan bersumber dari intuisi saya. Namun, dari seorang teman saya yang luar biasa bernama Ikhsan, dan biasa dipanggil si Prof.. karena ketika kalian lihat tampangnya, maka bayangan profesor aneh dengan tatanan rambut tidak jelas serta kata-kata yang "krik-krik-krik" bakalan nongol dihadapan kalian..... 

      Balik kepermasalahan.... kadang kala kita sering menggunakan sebuah kata, dan tanpa disadari penggunaan dan atau penempatan kata tersebut di dalam sebuah kalimat adalah salah. Simplenya adalah "emosi" , Emosi sering kali diidentikan dengan "marah", padahal dengan sangat jelas sekali bahwa MARAH itu EMOSI, tapi EMOSI itu belum tentu MARAH.... yah.. begitu pula pemakaian dan pemaknaan kata SELOOOO buat saya. Secara jujur, kata selo dalam bahasa jawa adalah "longgar", itu setahu saya. atau kalau dalam penggunaannya sering diartikan sebagai "cukup waktu luang", itu arti "SELO" secara sempit bagi saya. Sama halnya ketika Sudjiwotedjo bicara "JANCUK", mungkin arti sempitnya adalah sebuah makian, padahal pemaknaanya mungkin bukan demikian bagi beliau. 

        Yah demikian pula dengan saya, SELO buat saya tidak hanya longgar atau cukup waktu luang saja, SELO itu adalah "berbeda", ketika saya melakukan hal-hal yang umumnya tidak dilakukan, namun tidak melanggar norma dan karena memang hal itu menurut saya benar. Maka itu adalah waktu yang tepat buat anda bilang "SELO" kepada saya. Cukup waktu untuk melakukan hal-hal yang menurut orang lain itu tidak ada artinya. Kenapa "berbeda"? sering kali justru hal yang dianggap tidak umum, tidak benar, atau tidak banyak orang lakukan adalah sebuah "kejujuran". Contoh kecilnya, Ketika sudah banyak orang yang tidak memiliki waktu untuk tersenyum pada orang yang tidak dikenal, mungkin anda akan dianggap orang yang bodoh atau gila bila melakukannya. Namun, itulah kejujuran. Kenapa kita musti jaim? kenapa kita musti menutup diri untuk tersenyum? itulah SELO yang pertama.

          Mungkin saya memiliki banyak arti atau pemaknaan terhadap kata "SELO", tetapi dua saja yang akan saya ungkapkan. Nah, yang kedua adalah bahwa kata "SELO" itu berarti fleksibilitas atau kelenturan dalam menghadapi berbagai persoalan dan dalam menjalani hidup. Ketika orang begitu kaku akan perbedaan, maka "SELO" adalah melihat bahwa perbedaan yang ada itu sebagai sebuah keanekaragaman yang tidak perlu diperdebatkan. Ketika hal-hal yang begitu prinsipil secara kaku dipegang oleh orang, sehingga baginya "perbedaan" pendapat adalah ancaman, maka "SELO" adalah bagaimana anda kemudian melihat bahwa sebuah prinsip bisa saja saling menghargai dan tetap jalan beriringan tanpa merugikan dan merasa terancam satu dan yang lainnya. itulah "SELO" yang kedua. Jaman sekarang boleh dibilang adalah jaman yang kaku, orang-orang sering sekali melihat dunia secara tekstual, padahal bumi itu moving/ bergerak, artinya kita harus menjadi dinamis ketika berjalan di dalamnya. Maka selo adalah sebuah pilihan buat saya dalam menjalani hidup.

"can i walk in the water?" taken by fun_photograpic

          Dua hal itu mungkin secara prinsip bisa berbeda dengan para pembaca, namun ingat lah saya orang SELO yang menghargai perbedaan dan tidak merasa perbedaan pandangan adalah sebuah ancaman, selama anda tidak benar-benar mengancam saya, baca memukul, maka saya hargai pandangan anda juga. Secara menyenangkan dapat dikatakan bahwa orang selo dalam dua arti yang saya katakan tadi dapat digambarkan sebagai sosok out of the box, orang-orang yang mungkin bisa dengan leluasa keluar masuk comfort zone-nya, dan dengan bebas menjalani hidupnya dan dengan penuh kesadaran menyadari bahwa kebebasan adalah hal yang tanggungjawabnya paling besar. Ingatlah hidup hanya sementara, nikmatin hidup sesuai jalan yang kamu perjuangkan dan aspal dengan tenagamu sendiri. pertahankan kalau itu memang benar dan bersikaplah fleksibel pada perbedaan. Buat apa yang sementara ini mati-matian dipertahankan kalau tidak akan mendapat apa-apa ujungnya. Saya hanya berpendapat!! Keep SELOOOOO!! SALAM SELOOOO

Jumat, 07 September 2012

VACUUM.... blank or empty?

Sebuah gambaran mengenai arti KEKOSONGAN, apakah BLANK atau EMPTY ?

Judul yang aneh.... tidak ada alasan selain selintas pikiran dikepala mengenai arti kekosongan. Kalau ditranslate dalam kamus. Arti vacuum adalah kekosongan, namun kemudian kosong dalam arti BLANK? atau kosong dalam arti EMPTY? versi Englishnya, sepengetahuan saya VACUUM, BLANK, dan EMPTY berbeda makna. 


"Tetapi menjadi berbeda setelah dialihbahasakan ke dalam Bahasa Indonesia. KEKOSONGAN dalam arti KOSONG atau KOSONG? ini lah yang sering kali membuat bahasa Inggris menjadi ambigu ketika dialihbahasakan."

KEKOSONGAN, saya akan sedikit menggunakan bahasa yang sukar dimengerti, sehingga harap maklum. 

KEKOSONGAN kalau kita tarik dalam pemaknaan HIDUP, dapat menjadi BLANK sehingga kita bisa fill in the blank atau EMPTY sehingga half full half empty itu ada artinya. 

Tentu dua kalimat tadi maknanya berbeda bukan?

ketika kita BLANK, makanya kita perlu FILL IN THE BLANK, kita mengisi atau melengkapi kekosongan tersebut dengan sesuatu yang TEPAT tentu saja. Layaknya sebuah puzzle, hidup kita memang berisi potongan-potongan cerita dengan berbagai latar setting yang apabila disusun dengan tepat akan membuahkan sebuah gambaran utuh tentang HIDUP KITA, sehingga kita bisa bilang "it's my life"
Mudahnya adalah, kita sendiri yang menentukan gambaran yang seperti apa yang akan kita susun menjadi utuh. Sepertinya mudah, ternyata tidak semudah yang dibayangkan.




kemudian ketika EMPTY, harusnya kita HALF FULL HALF EMPTY, dalam hal ini jelas sistem keseimbangan menjadi sangat berperan. sehingga dalam hal ini kita memang perlu KEKOSONGAN. kenapa demikian? karena kekosongan dalam hal ini menciptakan sebuah hasrat untuk berupaya menjadi FULL atau penuh. Perlu disadari bahwa, kita tidak akan benar-benar bisa merasa full, karena  kalo kita full kita tidak akan adalagi yang namanya hasrat atau gairah. Ini berbahaya, seperti orang schizoprenia, tanpa gairah, hasrat, dan minat. Dengan adanya hasrat/ gairah/ minat hidup kita menjadi bertujuan dan terarah.

Maksud dan pointnya adalah.... Saya sering sekali mendengar atau melihat atau mengamati orang yang mengalami KEKOSONGAN dalam sebuah hubungan, dan mereka kemudian memutuskan untuk "SUDAH"
dengan kita bisa mendeskripsikan KEKOSONGAN yang seperti apa yang kita maksud, kita bisa tahu mengatasinya agar tidak berakhir "SUDAH". Secara teoritik memang tidak ada KEKOSONGAN dalam arti blank atau Empty, namun saya bukan berteori. Saya hanya membuat sebuah istilah agar menjadi lebih mudah.

KEKOSONGAN yang disebut dengan BLANK adalah ketika kita merasa "lost", tersesat, seperti kita merasa salah ambil jurusan, atau terbentur pada plihan-pilihan yang semuanya tidak kita inginkan sama sekali. Tetapi, saya ingatkan. Gambaran hidup yang kita susun, kita sendiri yang akan menentukan jadi seperti apa. Oleh karena itu ketika anda diputer bolak-balik seperti apa, anda harus ingat GAMBARAN yang sudah anda tentukan sebelumnya.

Dalam sebuah relationship, ketika awal anda berkomitmen. Maka tentukan gambar yang mudah dan sederhana, anda susun kepingan tadi menjadi utuh. kemudian lanjutkan dengan puzzle yang atau gambaran yang lebih besar dan susunlah perlahan bersama pasangan anda. maka FILL IN THE BLANK berlaku disini.
KEKOSONGAN yang disebut EMPTY adalah ketika kita merasa tidak ada kerjaan atau ketika hidup kita monoton, kehilangan gairah, dan itu-itu saja. lebih jelas lagi kalo kita amati di dalam sebuah "hubungan", ketika itu disebut BOSAN sehingga hal sepele menjadi masalah besar, ketika habbit berubah menjadi masalah, ketika ketersediaan waktu menjadi  hambatan, dan sebagainya, sehingga kita mengalami KEKOSONGAN. Maka ingatlah HALF FULL HALF EMPTY, buatlah hubungan positif yang tidak terburu-buru, beri jeda, beri ritme dalam hubungan yang dibangun, sehingga tidak seperti meminum air yang langsung kekerongkongan, namun perlahun-lahan seteguk demi seteguk. Ketika ada merasa FULL, tumpahkan sedikit untuk memberi sedikit ruang dan menjadikannya kosong. Kemudian anda berdua yang akan mengisinya kembali perlahan-lahan

sebuah pemaknaan sederhana dalam hal ini adalah, ketika menjadi sebuah hubungan. Jangan buru-buru anda menginginkan FULL, dan buatlah sebuah gambaran sederhana yang semakin lama-semakin besar dan Indah, namun anda punya keinginan untuk menuntaskannya secara perlahan menjadi utuh.

Life is simple, Make it simple, Simple things simple Way

Kamis, 14 Juni 2012

Angkringan "the teh jahe"

Angkringan... "The Teh Jahe"

the tittle is little weird maybe... hahaha there's "the" above an Indonesia words, whatever lah. Akhirnya nulis juga, setelah menghabiskan 4 jam berkutat dengan film yang nggak jelas juntrungannya "the descendent" and "the art getting by" dua film yang jelas berbeda, "a lot" 

"The Descendent" menceritakan tentang sebuah konflik keluarga, berhubungan dengan perselingkuhan, anak-anak yang bandel, dan budaya kepulauan hawai, nice island, i'll took it to my vocation plan. Dan "the art getting by" tentang gaya hidup remaja amerika yang bandel, semau gue, rawan konflik di sekolah dan keluarga, loneliness, such a terrible life as teenager includes the love story.

the point is everyday in our life we had a lot of problems, and in the certain time we lost our faith and need the motivation booster, and the worst is we didn't have it, so? what could we do? where just alone, wait to the next day, hope that when we closed our eyes and opened it will be miracle and our problems had solved.
Hahahaha... it's humanly maybe...


hubungannya dengan teh jahe?? NOTHING, 

kidding

tiba-tiba saja saya kepikiran "the teh jahe", salah satu menu minuman di Angkringan yang jarang sekali saya dengar orang memesannya. Entah kenapa? mungkin karena bukan perpaduan dua hal yang pas, atau karena jahe akan tidak terlalu "nyegrak", kalau bahasa saya, jika diolah bareng susu daripada dengan teh. 

tetapi menurut saya, itu sebuah perpaduan yang pas, teh yang memberikan ketenangan dicampur dengan jahe yang menghangatkan, tenang dan hangat. Dalam situasi yang saya ceritakan di atas,salam kondisi yang kita benar-benar ngerasa capek dengan semua permasalahan yang ada,  sering kali yang kita butuhkan adalah "kehangantan dan ketenangan" hangat dalam perhatian dan tenang untuk mencari penyelesaian.

Itulah sensasi dari teh jahe, "hangat dan tenang", ketika ada meminumnya perlahan, coba rasakan sensasi hangat yang perlahan turun membasahi krongkongan, aroma teh dan jahe yang tercium saat anda meminumnya memberikan sensasi aromaterapi yang menenangkan.
sama dengan kopi, teh jahe bukan sesuatu yang mudah dibuat, maksud saya tidak mudah membuat teh jahe yang "menghangatkan dan menenangkan" sering kali jahenya terlalu "nyegrak" atau tehnya kalah kental dengan jahenya sehingga tehnya tidak berasa, atau perpaduan keduanya menghilangkan rasa manis dari gula sehingga hambar jadinya.

Demikian Dalam hidup, nggak banyak orang yang bisa jadi seseorang yang "hangat dan tenang" buat orang lain, membuat orang yang sedang dalam masalah dapat menyelesaikan masalahnya dengan pikiran jernih dan tanpa keraguan.  Tidak banyak orang yang bisa demikian, sering kali ketika kita bercerita dengan orang lain, mereka membiarkan kita larut dalam gumpalan emosi yang tidak jelas mau kita apakan energi sebesar itu atau membuat kita terjebak pada asumsi asumsi mereka tentang masalah kita, membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar, tidak kalem sama sekali. Berbeda dengan orang yang bisa menjadi
the teh jahe

Buat calon psikolog, sebaiknya anda belajar untuk menjadi demikian, orang yang hangat akan membuat siapa saja yang bermasalah merasa nyaman untuk bercerita dan shared tentang masalahnya, sedangkan orang yang tenang akan membuat orang lain menjadi "calm" dan jernih dalam berpikir untuk menemukan solusi yang terbaik tentang masalahnya.
Tidak hanya psikolog, siapapun yang sedang punya masalah saya sarankan untuk meminum teh jahe, mencari sensasi "hangat dan ketenangan" dalam seruputan the teh jahe.

"Perpaduan antara teh dan jahe yang menggugah selera, seduh kebijaksanaan dalam permasalahan hidup."

Rabu, 23 Mei 2012

You and Me, Critical and Criticize Culture

You and Me, Critical and Criticize Culture....
Merujuk pada arti budaya menurut Kamus Bahasa Indonesia online, yang berarti sebuah kebiasaan yang sulit dirubah, dengan demikian kebiasaan kritis dan mengkritik dapat dikategorikan sebagai budaya seluruh atau sebagian atau hanya beberapa lapisan masyarakat Indonesia... mungkin dunia.

kritis memiliki banyak arti, tetapi dalam tulisan ini, yang saya maksud adalah kritis dalam arti "tajam dalam menganalisa" dan kritik yang saya maksud adalah "kecaman atau tanggapan yang sering disertai pertimbangan baik dan buruk", itu versi yang saya dapat dari Artikata.com

pict by blog.self-improvement-saga.com

okey, bagian luarnya sudah cukup. point yang ingin saya shared adalah sering kali orang mengkritik dengan dalih bersikap kritis. "nah" itu dia masalahnya.

Kritik atau mengkritik di Indonesia, Identik dengan kecaman atau bersifat negatif, akibatnya orang yang dikritik merasa tidak nyaman, akhirnya menimbulkan debat kusir yang "nggak" jelas arahnya. Saya lihat ditelevisi dan mengobservasi di sekitar, begitulah kenyataannya. 
Padahal sudah jelas, kritis dan mengkritik itu adalah berbeda. ketika anda mengkrtitisi mungkin hasilnya sebuah analisis mendalam tentang sebuah permasalahan yang tentunya bersifat objektif dengan didukung fakta-fakta yang bersifat objektif pula. Sedangkan ketika ada mengkritik sering kali adalah sebuah analisis dangkal tanpa fakta yang objektif, atau ada fakta namun bersifat subjektif.
Para elit sering melakukan hal ini, dan ini menjadi contoh yang tidak baik buat masyarakat. Walaupun sebenarnya, masyarakat sendiri juga sudah terbiasa mengkritik bukan mengkritisi. kenapa bisa demikian? itu juga sebuah pertanyaan besar untuk saya? 

Kalau kita berbicara tentang "kritis" pada dasarnya manusia memiliki "akal" yang memunculkan logika, nah dari logika ini lah yang akhirnya memunculkan rasa ingin tahu dan berawal dari ingin tahu bisa memunculkan sikap kritis.
Sedangkan mengkritik menurut saya pribadi muncul karena adanya perasaan subjektif yang negatif/ sentimen negatif sehingga mendorong seseorang untuk mencari celah kecacatan atau kekurangan seseorang. Oleh karena itu sangat berbeda dengan mengkritisi, berbeda tujuan dan alasannya. 

pict by http://edyprawoto.com/kemampuan-berpikir-kritis.html


Mengkritik adalah hal yang buruk menurut saya pribadi, alasan sederhananya karena niat awalnya sudah jelek, maka hasil yang didapat juga sesuai dengan niatnya. seperti yang telah saya jabarkan. Meskipun ada istilah "kritik yang membangun" buat saya pribadi, kritik itu tidak membangun, membangun tidaknya sebuah kritik itu bergantung pada yang menerima kritik, mau direspon menjadi hal yang membangun atau mau dilawan. 

"Nah" kembali kemasalah utamanya, karena mengkritik dan mengkritisi itu berbeda.. menurut saya pribadi. Jangan kemudian kita membiasakan diri untuk mengkritik dengan dalah kritis. Biasakan untuk mengkritisi, sehingga anda tidak hanya memberitahu kepada seseorang tentang kekurangannya saja, namun juga disertai dengan cara atau langkah-langkah yang bisa dia pergunakan untuk memperbaiki diri..
Buat para elit, membiasakan diri mengkritik itu tidak baik, karena mengkritik hanya akan menimbulkan dendam, dan ketika bumi itu berputar terbalik, maka giliran ada dikritik, begitu seterusnya sehingga anda hanya sibuk mengkritik dan dikritik bukannya malah melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat. Dan akan menjadi contoh yang tidak baik bagi masyarakat, karena masyarakat menjadi terbiasa untuk mengkritik namun tidak berpikir mendalam untuk mengkritisi, budaya yang tidak membangun sama sekali.

just shared.... AKU dan KAMU marilah saling mengkritisi.....

Rabu, 25 April 2012

Angkringan "to love somebody" part 2

akhirnya sempet juga nulis blog.... sibuk ngurus bayi my man.... what? bayi? adikku maksudnya... sekilas info aja, gara2 ortu pergi liburan, terpaksa aku merelakan 10 hari duniaku diambil secara halus untuk mengurus rumah beserta isinya.... *menyedihkan. 

ditulis dengan mendengarkan The Fray "i can barely say" in my own room at 18:59

ANGKRINGAN "to Love somebody" part 2

"itu sama halnya dengan kita mencintai hidup  dengan jalan yang kita cinta kan?" seseorang berpenampilan punk ternyata ikut menyimak obrolan kita. "Yah begitu lah mas, mas mencintai hidup mas dengan menjadi seorang punkers, dengan cara itu lah mas dapet ngerasain meaningful life, kebermaknaan hidup" bapak itu berseloroh. Sepertinya dia orang psikologi... aku begumam... "tapi, mohon maaf bapak dan masnya nih, apa iyah hidup jenengan yang punkers itu bermakna, secara kalo dari kata "makna" itu kan artinya berarti atau mengandung arti. dan dengan demikian apa arti menjadi punkers, mohon maaf ini sebelumnya", kataku sopan.
"pertanyaanmu bagus mas. nggak semua punkers seperti yang ada dalam kepalamu" jawabnya meninggi. "punk itu sebuah jalan hidup di mana aku bisa bertanggungjawab atas semua yang aku pikir dan lakuin" dia melanjutkan.
mataku terbelalak kaget, seorang punkers yang identik dengan gaya hidup begundal berandal, punya pikiran yang "wow" dan disampaikan dengan sederhana - baca sopan. "itu lah punk mas, itu lah makna hidup buat saya. saya bukan orang yang lembek dididik dengan uang, saya orang yang dididik dengan keras oleh jalanan untuk selalu belajar menghargai hidup saya" dia menambahkan dengan berapi-api. 

yah itu lah mas, makna hidup. Pemaknaan itu masing-masing, karena orang punya persepsi dan kemampuan berpikirnya masing-masing" bapak itu meluruskan dengan bijaksana. "pemaknaan hidup ini lah yang akan menjadi nilai kita dalam berperilaku dan menapaki setiap jejak kehidupan kita" wow.. seperti motivator saja bapak ini. 

"Saya dari Sidoarjo, saya khusus ke Jogja hanya untuk mengunjungi teman saya ini", dia menepuk pundak penjual angkringan. "karena buat saya, persaudaraan lah yang membuat saya bermakna, maka saya mengikat persaudaraan dengan siapa saja dengan cara yang saya cinta... musik dan berdiskusi" mengakhiri kalimatnya dengan menyeruput teh nasgitel khas angkringan.

Perbincangan hangat ini ditutup dengan lagu John Lennon yang Imagine, dengan ukelele tangan itu menari, memetik gitar dengan lembut dan suaranya yang merdu. Sometimes we must have a time to share sir... glad to know and see you...

Begitulah saya belajar dari teman dan saudara baru saya, tidak banyak yang kita tahu di dunia ini, sampai akhirnya kita membaca langsung dari sumbernya, itu lah kenapa membaca bukan hanya berteori.

Minggu, 22 April 2012

Angkringan "to love somebody"

Akhirnya nulis jga.... sebuah judul lama yang aku angkat kembali... bukan "to love somebody"nya but "ANGKRINGAN"... aku emang sempet banyak nulis soal angkringan... simple aja... tagline buat yang satu ini emang jelas karena "Angkringan, selalu ada cerita buat semua"  *laughing. 


ANGKRINGAN "To Love Somebody"

what times? aku ngelirik jam di tangan, inget... cuma ngelirik. posisi aku lagi melaju di atas 60 km/jam menuju daerah yang aku sendiri ga yakin aku bakal tahu *whistling. Kalau banyak yang bilang, kadang kita perlu pake feeling, nah moment itu berlaku banget buat aku. Menuju suatu tempat yang lo sendiri nggak yakin di mana, cuma ngikutin feeling... that's tagline for my stupid things. Aku akuin kadang feelingku bener *angkat kerah... cuma banyakan salahnya.... *smile
whatever lah.... singkatnya aku ragu sama feeling aku, karena logika berjalan begitu kuat. Aku bukan makhluk bodoh tanpa logika.  Aku berhenti, menatap pinggir jalan yang berupa tembok putih memanjang bertuliskan KM 10,9. Inilah yang namanya memilih, Logika atau Feeling? aku pilih logika. Aku putusun buat turun dan menepi di angkringan. Angkringan selalu ada cerita. today it's saturday night, jelas aja nih angkringan rame. Aku bukan mau nongkrong, aku mau ngangkring, jadi jelas tempat duduk di sebalah angkringan yang model gerobaknya itu gerobak pikul jadi pilihan. dan ternyata.... Good postition. Baru aja aku duduk sambil memesan tape anget. " to love somebody... to love somebody.... to love somebody... the way i love you"  mengalun apik, diiringi genjrengan ukelele. Seorang bapak-bapak fasih menyanyikannya, dengan backing vokal mas-mas berambut gondrong yang ga tau siapa namanya. So classy.. Singkatnya akhirnya aku tahu itu lagu bee gees. Bapak dan mas itu sedang membicarakan musik dan liriknya, "to love somebody the way i love, bukti kalo cinta itu karena cinta. Maksudnya, kita mencintai seseorang dengan cara yang kita cinta, sehingga kita mencintai dengan cinta" kata bapak itu sambil terkekeh. Mas gondrong pun menimpali "itu dia pak, kadang kita susah nemuin yang seperti itu. Nikah pasti harus mikir bibit bobot bebetnya kan? berarti udah bukan karena cinta kan kalo itu?" argumen mas gondrong. 
Obrolan itu membuat aku tertarik, bukan karena temanya "cinta" tetapi ada sesuatu yang bakal aku dapet dari perbincangan yang mulai seru ini, logika memang menutupi.hehehe"

"iyah mas, itu benar. bebet bobot bibitnya. semua emang butuh. cinta itu berproses mas. ada fasenya. ketemu saling kenal, tahu bebet bobot bibitnya, and ikutin aja alurnya. nanti mas bakal ngerti. Apa itu cinta untuk mencinta" wah jawaban bapaknya songong nih. Pikirku. but actually di dalam ilmu psikologi yang aku pelajari, emang cinta itu sebuah emosi, kalo ada yg bilang cinta itu perasaan, baca lagi bukunya yah.. hehehe.. dan emosi itu ada prosesnya. seperti marah yang ada antasenden dan proses proses psikis lainnya, demikian pula cinta, "Cinta ada dinamika dan antesenden layaknya sebuah emosi" itu setahu saya. Dan aku menggunakan itu untuk menimpali jawaban bapaknya. "yah saya setuju mas. dan bee gees menuliskan lagu ini dengan begitu baik. bercerita tentang seseorang yang tidak bisa memiliki kekasihnya, tapi dia tidak pernah berhenti mencintanya, karena apa? karena to love somebody the way i love.. Dia mencintai seseorang dengan cara yang dia cinta. sebenarnya itu berlaku untuk semua hal. bukan hanya cinta. Gaya bijaksana ala bapak-bapak paruh baya pun keluar. aksen khas jawa timurnya pun tidak bisa menipu. "dalam pekerjaan kita harus mencintai pekerjaan itu dengan cara yang kita cinta, sehingga hasil yang di dapat dari pekerjaan itu penuh cinta juga" 
"itu sama halnya dengan kita mencintai hidup  dengan jalan yang kita cinta kan?" seseorang berpenampilan punk ternyata ikut menyimak obrolan kita. "Yah begitu lah mas, mas mencintai hidup mas dengan menjadi seorang punkers, dengan cari itu lah kita dapet ngerasain meaningful life, kebermaknaan hidup", bapak itu berseloroh. Sepertinya dia orang psikolog... aku bergumam. 

to be continued........

dipostingan selanjutnya bakal aku terusin deh... singkatnya...
 Mencintai dengan cara yang kita cinta, biar hasilnya juga penuh cinta