Jumat, 05 Desember 2014

FILOSOFI KOPI #4 No Coffee Depresso

We're out of coffee.... 
How Do You Feel When There Is No Coffee? DEPRESSO!

Sore itu, senja perlahan menghambur ke horizon. Aku memutuskan untuk menunggu lebih lama supaya bisa nge-capture momen blue hour,
BLUE HOUR adalah waktu di mana senja telah tenggelam dan menyisakan langit yang berwarna biru gelap sebagai langit peralihan siang dan malam. -6 sampai -4 derajat sebelum horizon kalau kata Google.
Aku pun tidak tahu pastinya -6 sampai -4 derajat tuh seberapa, cukup dirasakan saja. Learning by experienced. Lagian, angka itu soal kesepakatan, bukan kepastian. Kepastian itu soal ketetapan hati. Semakin tetap hati kita, semakin pasti pula apa yang kita rasakan.

Butuh kesabaran untuk memotret alam, bukan perkara yang mudah.
Alam punya aktivitasnya sendiri. Teratur, seimbang, namun dinamis menyesuaikan kehendak Tuhan. Apakah hujan, apakah pelangi, atau kah lembab, menyengat, semua sudah ada aturannya, dan itu HAK TUHAN untuk mengaturnya, Itu lah sebabnya alam memberikan banyak pelajaran tentang Ketuhanan. Oleh karena itu, seharusnya para pecinta alam semakin mencintai Tuhan, akan jadi ironis apabila tidak demikian. 

Akhirnya yang ditunggu hadir juga. Warna biru peralihan, menghadirkan suasana yang aku sebut "feel so blue" .Jangan artikan itu MELOW,
Suasana di mana kamu merasa seolah-olah waktu dan dunia ini hanya milikmu, itulah FEEL SO BLUE.
Aku mengabadikan beberapa momen, memutar lensa, menyesuaikan apperture, mencari angle terbaik, menyetting gearku. Mengambil momen terbaik dalam batas waktu yang relatif singkat. Seolah-olah aku dikejar waktu. Waktu tidak pernah menunggu dia berjalan, bergerak cepat. Persepsi yang membuat kita seolah-olah MENUNGGU waktu, padahal ia sebaliknya.

BLUE HOUR pun menjadi malam, menciptakan kepuasan. Kepuasan yang membuatku ingin melengkapinya dengan NGOPI. Pergi lah aku ke warung kopi (baca coffeeshop) dan berharap malam itu menjadi lengkap karena ada KOPI dan INSPIRASI.

Sampai lah aku pada sebuah coffeeshop berukuran kecil, tidak lebih dari 5x3 meter persegi. Interior desain berbahan dasar kayu, dengan lapisan plitur yang terkesan natural. Desain seperti itu memang sedang IN. Semua terkesan sederhana. jejeran kaleng kaleng kaca berisi kopi, tatanan gelas dan botol syrup khas cafe-cafe, serta tempat duduk yang memang terkesan santai untuk mengobrol. Lebih cantik lagi dengan adanya rak besar yang berisi varian kopi, baik secara jenis, kemasan, ukuran, maupun pernak pernik warung kopi dari sebuah eksportir kopi yang lumayan besar di indonesia.
Aku mendatangi barista, seorang perempuan berkrudung menyapaku dan menawarkan beberapa jenis kopinya. Syphone Gayo yang akhirnya aku pilih.
Kopi memang ada hanya ada dua, ROBUSTA atau ARABICA, namun dari segi proses pematangan, pemasakan, dan atau lokasi tanam membuat varian kopi jadi beraneka, salah satunya Gayo. Karakter aromanya yang kuat,wangi, spicy, body yang lembut membuat gayo selalu menjadi pilihanku. Belum bisa aku benar-benar beralih dari Gayo. Padahal banyak jenis kopi lain yang karakternya hampir sama, ciwidey, temanggung, guatemala.

Barista perempuan itu mendatangiku, membawakan perlengkapan seperti tabung praktikum untuk memproses kopi yang aku kenal dengan istilah syphone. Warung itu sepi, hanya ada aku sebagai pengunjung pagi itu. Seorang pria tinggi, badannya gempal, berbaju batik mendatangiku.

"Suka kopi mas?" tanyanya menyapaku
"Addict mas" balasku tersenyum
"Pertama kali ke sini? baru tau atau memang baru sempat nyoba?"
"ini pertama kali, baru tau ada warung ini"

Pria itu pun bercerita tentang warung tersebut. Ternyata warungnya sudah setahun berdiri, namun sepi pengunjung karena faktor marketing yang kurang mantap katanya. Alasan tersebut yang membuat laki-laki tadi dipindahkan dari Jakarta ke Jogja. Warung Kopi itu ternyata ada di beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Pekanbaru. Dia mulai bercerita berbagai pengalamannya sebagai manajer. Aku takjub, banyak sekali wejangan yang bisa kita peroleh dari orang ini. Tampaknya pun, dia sangat menikmati bercerita. Sampai akhirnya ada kalimatnya yang menggelitik.

"Kopi itu layaknya perempuan"  beda perlakuan beda pula hasilnya. Semua orang tau kopi, semua orang bisa belajar tentang kopi bahkan dengan cepat, namun tidak banyak yang bisa memperlakukan KOPI dengan tepat. Semua bisa bilang paham tentang perempuan, namun tidak semua dapat memperlakukannya dengan tepat"

Aku tergelitik, aku belum pernah mendengar ada perbandingan yang demikian. Aku bertanya padanya "seberapa KOPI kah perempuan itu?" konyol kedengarannya, namun laki-laki itu bisa memahami pertanyaanku.

"itu lah uniknya... Perempuan sama halnya dengan minum kopi.. Pahit, manis, asem yah kita telen juga kan sebagai laki-laki" 


Aku mulai paham, memang benar apa yang disampaikan laki-laki itu. Benar bahwa apapun itu, kami pria yang akan mengejar perempuan. Mau jaman emansipasi seperti apa pun ke depan besok. Kebanyakan perempuan pasti akan minta dikejar. Dan layaknya KOPI, pahit manis asem rasanya, sebagai laki-laki tetap kami telan.

Menurutku, itu lah gambaran penghargaan tertinggi bagi perempuan... dan gambaran mengenai memilih laki-laki yang tepat.

Kopi adalah sesuatu yang merakyat namun nilai jualnya tinggi. Sama halnya dengan perempuan, dia memang banyak. namun hanya yang terpilih yang memiliki penghargaan tertinggi.
Demikian juga dengan laki-laki. Banyak laki-laki ganteng, kaya, pintar, namun bukan itu yang jadi "point" utama buat bisa memperlakukan perempuan dengan tepat! Dan hanya dia yang bisa memperlakukan perempuan dengan tepat yang akan bisa menikmati AROMA CITARASAnya.

"barista pun kebanyakan lulusan SMA, namun justru pengalaman, keinginan belajar yang membuatnya semakin tahu cara memperlakukan kopi. Maka jatuh bangun lah mengejar perempuan karenanya kamu akan semakin tahu cara memperlakukannya dengan benar. Dan mulai lah itu dari Ibumu sebagai perempuan" 

Kalimat di atas lah yang memperjelas semuanya. memperjelas kekedudukan wanita dalam metaforanya sebagai KOPI.
Hanya Ayah yang tahu bagaimana menghargai istrinya dan hanya anak yang tahu bagaimana menghormati perjuangan Ibunya lah yang akan tahu bagaimana memperlakukan seorang perempuan dengan tepat!

Dan akhirnya, segelas espresso dan Gayo syphone terhitung gratis karena kami mulai akrab, dia seorang manager coffeeshop memberikan banyak sekali pemahaman baru tentang hidup, usaha, kerja keras, dan tentu saja tentang KOPI. Pemaknaan terhadap KOPI dari seseorang yang sudah berkecimpung dengan dengan KOPI selama lebih dari 10 tahun, sedangkan usianya hanya terpaut 10 tahun dari angka seperempat abad. Amazing!!

Kebayang jadinya.. seandainya kopi adalah perempuan? maka It Would Be So Depresso When There Is No Coffee, karena perjuangan seorang Ibu lah, anak laki-lakinya bisa menjadi sosok yang tangguh. 

Terimakasih Tuhan karena engkau mempertemukanku dengan orang hebat, yang menambah wawasan hidupku dan juga tentang kopi. Terimakasih untuk seseorang yang menginspirasi judul tulisan ini. Terimakasih untuk Pak Taufiq Coffindo atas free espresso dan Mbak Hilga atas Gayo Siphone nya.

FILOSOFI KOPI #3

Jumat, 11 Juli 2014

FILOSOFI KOPI #3 Secangkir Kopi, Pria Tua, Dan Senja

by snapshot morning glory

Dia yang mulai renta, dengan  lipatan kerut pada wajah dan senyumnya
Antara tua dan muda bertukar cerita, berbagi makna... menguntai canda, mengurai kekakuan
Cerita tentang karya seorang Pak Tua, Goresan idealisme dan percampuran warna tentang dunia
Memunculkan kekaguman akan kebijaksanaan.. Pak Tua, sang penikmat kopi dan senja


Senja dikala itu.... beliau tampak sederhana dengan kaos putih, kacamata bulat model lama, jeans belel. Lengkap dengan aksesorisnya, tongkat kayu berwarna coklat tua dengan guratan kayu yang tampak apik. 

Senja dikala itu... campur aduk warna merah, oranye, kuning, biru, dan abu-abu...Begitu damai... Aroma nikmat rokok kretek merek ternama yang asing bagi kebanyakan orang, namun tidak bagi mereka perokok sejati, menambah syahdu senja dikala itu.

Seorang Pria tua itu menyapaku, berbicara tentang rokokku. dari situ lah pembicaraan kami tentang hal yang tidak aku sangka berawal.

"rokok ini... di masa muda saya, ia berjaya. Hanya tuan muda saja yang bisa menikmatinya" ujar pria tua lembut.

Aku kaget, temanku mengenalnya. Mereka berbincang sejenak tentang pertemuan yang baru 5 menit lalu mereka alami. Saat temanku memesan secangkir kopi jahe.

"ahh... mari om, silahkan duduk bersama kami"  temanku mempersilahkannya, menarik kursi untuk beliau dan mulai menawarkan rokokku padanya.
Aku hanya tersenyum, mengamati beliau dan menarik kesimpulan cepat bahwa beliau adalah seniman.

Pria itu tersenyum... ia mengaku kagum dengan kami. Anak muda yang santun kata beliau.
Di zaman sekarang ini, di mana tata krama adalah sajian mahal, namun dijual gratis pun ditolak mentah-mentah.
Beliau duduk, menolak rokokku dengan halus, dan mulai memegang tongkatnya ditengah-tengah dagunya. Bergumam tentang aku dan temanku, dua anak muda yang beliau rasa punya selera untuk menikmati senja.
Aku memang suka dengan senja, warna dan rasanya membuat kita berpikir, waktu yang pas untuk merenung, tentang makna kehidupan yang kita semua tahu tidak lah selamanya. 

"Jarang ada pemuda seperti kalian, namun nampaknya kalian sudah tidak muda, hanya belum cukup umur saja untuk dibilang tua"  kami bertiga tertawa.

"iya om, kami belum bisa dibilang tua, namun wajah kami nampaknya sudah tidak muda, seperempat abad tepatnya" temanku berujar

"bekerja di mana?" 

"kami pengangguran om. masih belum lulus kuliah. betah jadi mahasiswa" kataku membuka suara

"mahasiswa, enak soalnya yah? Menyandang gelar Maha, meskipun sebenarnya cuma siswa. Namun, cukup bisa dibanggakan lah yah? kenapa belum selesai? apakah sibuk bekerja? 

"hanya teman saya ini om yang bekerja, saya sendiri sudah cukup sibuk memikirkan kuliah, tidak sanggup rasanya menambah beban dengan bekerja" 

"Ahhh... saya paham. Saya pun demikian. Hanya saja, hobi dan pekerjaan saya selaras. Itu membuatnya sangat berharga sehingga ringan sekali rasanya"

Beliau adalah seniman yang karyanya banyak tersimpan diberbagai geleri serta seorang kurator untuk museum ternama di Jakarta, setidaknya itu hasil yang aku temukan setelah meng-googling namanya. Tidak disangka kami bertemu beliau, di tempat sederhana dengan hamparan luas keindahan.

"Bekerja itu bukan melulu soal uang, bekerja itu soal meng-ADA. Terlebih di usia kalian memang sudah sepantasnya kalian mandiri dengan bekerja. Anak-anak muda sudah seharusnya giat bekerja, apapun pekerjaannya. Namun, sebaiknya bekerja itu bukan sekedar apa, di mana, dan berapa? apa pekerjaannya? di mana bekerjanya? dan berapa penghasilannya?"

Memang benar, bekerja bukan soal uang. Tapi faktanya orang bekerja untuk mencari uang. Ada sedikit perbedaan antara saya dan pak tua dalam melihat pekerjaan. Di Usia kami, di mana idealisme dijunjung, pekerjaan akan soal di mana, apa, dan berapa salary-nya? itu membuat kami exist atau mengada.

"Om, menurut saya... mengada itu selalu butuh proses, tidak pernah sama. Usia seperempat abad, akan meng-ADA ketika pekerjaan kami itu tentang apa? di mana? dan berapa? tetapi mungkin tidak di usia yang lebih tua di mana pekerjaan itu mengenai kenyaman"

Pria tua itu tersenyum, "anak muda memang punya analisis yang lebih tajam" begitu beliau menjawab pernyataan saya. Dengan lembut dia menatap saya, seolah saya adalah cucunya sendiri. Tatapannya penuh kehangatan dan kebijaksanaan orang besar.

"Kamu tidak salah mas, malah mungkin benar. Hanya sedikit saja catatan.. sedikit saja. Eksistensi apa yang lebih tinggi selain kembali ke kodrat kita sebagai manusia. Manusia yang menghambakan dirinya pada Tuhan. Agama saya mengajarkan tentang hal tersebut, carilah pekerjaan di mana kamu melihat Tuhan di sana."

Aku melupakan poin itu, aku lupa soal eksistensi sejati manusia. Kembali ke fitrahnya. sebagai manusia yang menghamba kepada-Nya dan memenuhi eksistensi kita... bahkan menurutku itu eksistensi tertinggi.

"Coba kita lihat KOPI ini" Pria tua itu menunjuk kopi kamii.
"Dia diciptakan Tuhan untuk manusia. Ditanam dan dipetik untuk diambil manfaatnya. Namun, ketika itu menjadi sebuah persoalan BISNIS dan soal citarasa saja, kopi akan menjadi sesuatu yang mahal, gaya hidup, dan eksistensi modern tentang minuman penuh citarasa. Lupa pada kodratnya, KOPI itu diciptakan dan dimanfaatkan untuk manusia agar merasakan nikmat Tuhan, bukan eksistensi ekslusivitas.

Kami terhenyak, pembahasan kami cepat beralih, namun aku dapat pointnya. Sejatinya, apapun itu, eksistensi tertinggi adalah ketika kita melihat Tuhan dari banyak hal yang dilakukan, dapatkan, dan kerjakan.

"demikian pun dengan bekerja, saya melukis. bukan semata untuk menghasilkan karya dan penghasilan. Saya melukis untuk melihat keagungan Tuhan, menyadari betapa kecilnya saya sebagai manusia. Hal itu yang menurut saya, menjadikan seorang seniman memiliki spiritualitas yang baik. Karya-karyanya akan bertema tentang kehidupan, keselarasan, dan Tuhan. Spiritualitas itu pula yang membawa kepekaan seniman terhadap realitas sosial, sehingga seniman itu kritikus yang baik melalui karyanya

Aku mulai paham. Ketika seorang bankir melihat Tuhan di dalam pekerjaannya. Dia akan bekerja dengan tanggungjawab, bukan sekedar mencari kepuasan lahiriah, namun juga kepuasan batin. Dia akan menjadi bankir yang jujur, memperlihatkan kuasa Tuhan bahwa harta tidak disimpan untuk di bawa mati. Namun, disimpan untuk investasi masa depan. Atau ketika seorang arsitek menciptakan konsep rumah hunian yang bersahaja, nyaman, dan hangat untuk sebuah keluarga, bukan sekedar mengenai kemewahan dan budget yang besar saja, namun mengenai sebuah rumah nyaman untuk mendukung terciptanya keluarga yang sakinah. Hal tersebut tentu saja disebabkan karena ia melihat Tuhan dalam pekerjaannya.

Andai semua manusia menyadari kodratnya. Andai mahasiswa menyadari tanggungjawab akan ilmunya karena melihat Tuhan ada dibalik setiap ilmu yang ia miliki. Tidak perlu susah susah bangsa ini mencari tenaga asing karena setiap orang berilmu di Indonesia sadar akan tanggungjawab ilmunya terhadap Tuhan.
Andai manusia menyadari eksistensi tertinggi adalah menghamba pada-Nya, pemilik segala-Nya. Saya rasa tidak akan ada malpraktek, korupsi, kecurangan ujian masuk, dan banyak hal lainnya yang saat ini menjadi masalah karena orang pintar hanya meng-ADA sebatas di dunia saja.

Aku dan temanku bersyukur, bertemu dengan Pria tua yang mengajarkan kami soal Tuhan, Kopi, Lukisan, dan Senja. Mengajarkanku untuk tidak hanya menjadi mahasiswa, namun juga manusia yang punya tanggungjawab membagi ilmunya, mengkaryakan ilmunya untuk kebermanfaatan. Bukan hanya status mahasiswa  yang dibanggakan dalam jejaring sosial dan pertemuan keluarga saja.

Sekali lagi aku belajar, tentang kehidupan dari KOPI dan dari seorang pria tua. Ditemani syahdunya senja di ufuk yang memancarkan rona warna keindahan.
Aku bersyukur, Tuhan mengingatkanku tentang hakikat manusia dengan cara yang indah. 

FILOSOFI KOPI #2

Minggu, 19 Januari 2014

FILOSOFI KOPI #2


Kopi... adalah teman bagi mereka pencari makna, penikmat senja, dan petualang hidup
realitas yang pahit, diseduh dengan "panas" perjuangan untuk sebuah citarasa kehidupan.
yah.. itulah kopi.. teman bagi mereka pencari makna..
(notalone99, 2014)


Ada sebuah ungkapan bahwa Tuhan menciptakan sesuatu dengan alasan, salah satunya adalah agar manusia belajar daripada apa yang diciptakan untuknya. Sama seperti FILOSOFI KOPI #1, pada tulisan kali ini saya ingin mengajak pembaca untuk "belajar" dari sesuatu yang sangat dekat dengan kita, sesuatu yang selalu menginspirasi, sesuatu yang selalu menjadi teman bagi kebanyakan mereka yang mau belajar soal kehidupan. 
Ada sebuah FAKTA yang saya tidak tahu sejak kapan dipublikasikan, namun faktanya... Setiap penulis hampir selalu menghabiskan 2 jam waktunya di cafe dengan secangkir kopi. Entah untuk menulis atau hanya sekedar membaca atau hanya mengobrol dengan relasi. FAKTA itu membuktikan bagaimana kopi begitu dekat dengan anda yang ingin mencari makna.

Pencari makna.... terdengar berat, tapi memang manusia "hidup" untuk mencari makna seperti ungkapan Life to Learn and Learn to life  , kita "belajar" tentang bagaimana memaknai setiap sudut kehidupan kita dan menjadikannya pelajaran untuk menjalani kehidupan selanjutnya. 

Pencari makna, tentu sudah barang lama kita melihat bagaimana "kopi" tidak hanya disajikan secara Espresso saja, banyak jenis minuman kopi yang bisa ada pesan di cafe coffee di mana pun, seperti cappucino, caffelatte, macciato, double espresso, americano, coffeemix, frappuccino, dan banyak lainnya yang sudah banyak anda tahu. Dan tahukan ada, bahwa kopi juga banyak disajikan dalam berbagai bentuk makanan... salah satu yang sudah banyak orang kenal adalah "TIRAMISU"... Singkatnya, banyak sekali makanan dan minuman yang berasal dari kopi... dan tahukah anda, bahwa minuman atau makanan yang dicampur dengan kopi tidak pernah menghilangkan CITARASA khas dari kopi itu sendiri. Itu lah KOPI..

Kopi begitu khas dan kokoh pada jatidirinya, bahwa dia adalah kopi dengan aroma yang khas, sekalipun dia mendapat campuran dari berbagai bahan lain. Dia tidak pernah kehilangan jati dirinya. Itu lah yang kebanyakan orang "LUPA", jatidiri tanpa perlu bersinggungan karena perbedaan. Banyak sekali kasus yang tentu saja sudah sering anda dengar, kasus berkedok Agama, kasus berkedok suku, dan kasus lain yang sifatnya RASIS. Dalam kasus itu, kebanyakan disebabkan karena adanya anggapan bahwa perbedaan akan mengancam eksistensinya, bahwa perubahan akan berbahaya bagi kelangsungan jatidirinya. sehingga terjadi hal-hal yang sifatnya AGRESIF. Mari kita tengok kopi, sekalipun dicampur dengan berbagai bahan, dia tidak serta merta membuat perpaduan yang bikin anda ENEG, atau kemudian mendominasi dan menjadikan rasa makanan/ minuman tersebut menjadi Aneh - tentu saja dengan takaran tertentu - Itu lah kopi.
KOPI tidak pernah labil, dia dewasa dalam menunjukkan eksistensinya.. menganggap Perubahan dan Perbedaan sebagai sesuatu yang justru menguatkan JATIDIRI-nya, bukan sebuah BAHAYA yang akan menghilangkan kedewasaannya, membuatnya lupa diri, serta membuatnya menjadi labil. Itu lah kopi.

Penulis berusaha untuk tidak munafik, bahwa sesuatu yang dirasa mengancam akan memunculkan respon bertahan, namun cukup dewasa kah kita sehingga menjadikannya sebagai sesuatu yang justru menguatkan SELF, memperluas sudut pandang SELF, dan mempercantik perilaku SELF. 

KOPI... citarasa kehidupan, ciptaan Tuhan yang senantiasa menemani mereka pencari makna. Pencari makna yang cukup dewasa untuk menjadi manusia seutuhnya, mengakui kelemahannya, namun pribadi kuat dalam memaknai hiruk pikuk kehidupan dan bersyukur daripadanya.

"I have measured out my life with coffee spoons"- TS Eliot

Jumat, 26 Oktober 2012

Angkringan... Cerita di Balik Tape Panas 2

bagaimana kalau mereka yang berdasi dan duduk di ruang AC dengan kursi nyaman tetapi korupsi? dibandingkan dengan para tukang becak yang memakai celena pendek dan baju compang camping tetapi bekerja setulus hati. Atau dokter yang berjas putih tetapi membuat pasien lama menunggu sebanding dengan penjual angkringan yang menyajikan gelas pun dengan sopan? Mana yang profesional? jadi sebenarnya profesional itu apa?

Kalimat itu mengusik dan menggugah gairahku untuk berpikir, yah... saya sepakat memang tampak luaran alias pakaian bukan segala-galanya, dan mungkin sebagian orang akan setuju akan hal itu. Namun, yang menjadi pertanyaanku, kenapa sebagian dosen dan mungkin banyak orang tua beralasan bahwa PAKAIAN merupakan Bagian dari PROFESIONALITAS seseorang. why?? "jederrrrrrrr" suara petir menyambar nyambar dari langit dan bumi memunculkan aroma sedap yang tidak bisa dituliskan bagaimana baunya.

"apakah profesional itu sekedar baju mas?" bapak penikmat tape itu meneruskan. "saya juga tidak begitu yakin, tetapi apakah mungkin bapak? dokter ke rumah sakit atau buka praktek menggunakan tanktop? atau semacam kaos singlet? saya rasa juga tidak mungkin itu." aku mencoba buat rasional. 
"Yah yah yah, itu memang benar mas. Saya sepakat, tetapi kenapa tidak kalau perlu? bayangkan kalau ada pasien kondisi darurat malam-malam datang ke rumahnya, apa iyah dokternya harus berganti baju dinas dulu? saya rasa itu juga tidak baik."  "GLEK" rasanya seperti tercekik, benar juga bapak ini pikirku. Jadi apa sebenarnya kata PROFESIONAL dan apakah pakaian berhubungan dengan itu.
"mmm... sudah mas.. Jangan terlalu dipikirkan. Mungkin saya cuma ngelantur aja" bapak itu tersenyum. Aku yang semacam kacau, malu bercampur dengan rasa ingin tahu, dan kecewa. kenapa dosen dan semua yang memberitahuku bahwa harus bepakaian agar terlihat profesional tidak pernah memberi tahu hal ini. 

"mas, berpakaian pada dasarnya hanya untuk menutupi dari malu dan melindungi dari cuaca. tetapi jaman sekarang menjadi lain, karena esensinya semua sama di mata sang kholiq bukan pakaian yang membedakan kita tetapi amalan" tapi sekarang berubah menjadi banyak fungsi. Fungsi pembeda, status sosial, fungsi gaya. yah banyak fungsi. dan kadang kita jadi lupa. Aku cuma ngangguk ngangguk. lidahku kelu, dan salivaku seperti terhambat untuk memproduksi air liur. kaku dan tidak bisa berujar apa-apa.

Secara pribadi, aku juga berpendapat sama dengan si Bapak. Esensi berpakaian adalah menutupi kemaluan, jadi kalau sudah berpakaian tapi kok masih melakukan hal-hal memalukan, mending tidak usah berpakaian. itu yang pertama.

Kedua, "KESOPANAN" berpakaianlah sesuai dengan kesopanan yang ada di dalam hati dan jujur lah untuk bisa sopan. Jangan karena diundang makan-makan pejabat jadi harus merelakan banyak uang untuk berpakaian mahal. Jadi berpakaian lah sesuai konteksnya dengan niat yang sesuai pula. Karena sebuah perilaku bisa jadi terhitung amalan seandainya niatnya benar.

Ketiga, yang membuat pakaian menjadi bagian dari profesionalisme ada sebuah gengsi dari masing-masing profesi. Dokter merasa perlu dibedakan dengan pasiennya dan direktur merasa perlu dibedakan dengan bawahannya. Jadi kalau dalam konteks yang benar, berlaku lah profesional tanpa harus menunjukan "perbedaan" dengan pakaiannya yang digunakan. Bagaimana pun arti profesional adalah "sesuai dengan profesinya" dalam hal ini yang saya maksud adalah bagaimana seseorang menjalankan tanggungjawab profesinya dengan sebenar-benarnya.

Hidup... hanyalah sebuah cover permukaan, karena esensinya adalah kita ciptaan-Nya untuk bersujud kepada-Nya
 
Hujan pun mereda, setelah membayar apa yang sudah saya asup. Saya berenjak pergi. senyum terurai penuh kepuasan. Inilah angkringan, dimana semua kalangan bisa saling bertukar pikiran, tanpa ada sekat dan status yang dibawa-bawa. Yang ada hanya bagaimana pola pikir dan perenungan masing-masing akan sebuah "konteks". Angkringan... selalu ada cerita.

Rabu, 17 Oktober 2012

Angkringan... Di Balik Cerita Tape Panas

Di balik gerimis, sebuah senyum mentari dengan guratan pelangi tengah menari-nari...

Orang sering tidak bisa melihat apa yang tampak, dengan mata hanya akan sebatas permukaan... dengan mata hanya akan sebatas cover.... dengan mata hanya sebatas luaran...


mata membatasi imajinasi....  Dengarkan, perhatikan, dan rasakan, seandainya semua itu dicari penghubungnya, mungkin berujung pada HATI....

Cuaca menjadi susah diprediksi, meskipun alam masih memberi tanda. Musim penghujan dan musim panas masih berputar bergantian, namun pergeseran waktunya menjadi susah diprediksi buat mereka orang yang awam. Ada hujan ditengah panas, namun ada terik menyapa di musim hujan.
Hujan perlahan menjadi deras, menumpahkan air ke bumi penuh rasa syukur, aku sudah lama tidak hujan-hujan, namun alangkah bodohnya ketika bermain dengan hujan sambil bawa laptop yang tinggal satu-satunya. Sedikit kecewa, namun tidak menjadi bodoh pun sedikit menyenangkan. Aku memutuskan untuk berhenti di Angkringan.

"Jawah mas, mampir mriki" sebuah senyum ramah dari sang empunya angkringan meluncur dengan lembutnya, "nggih pak, mengkeh dak flu nek udan-udan" jawabku bercanda. Ada catatan di sini, sesuatu yang sikapnya spontan sering kali menyenangkan, karena spontan itu bisa jadi jujur, bukan sesuatu yang direncanakan atau dibuat-buat, dan itu menyenangkan. Menyenangkan ketika tanpa tujuan kemudian kita mampir disebuah angkringan dan diterima dengan nyaman di sana, dan itu tidak aku rencanakan...

"mau minum apa mas?" beliau melanjutkan. Begitu kalimat tersebut beliau lontarkan, aku sekilas melihat bungkusan daun pisang yang menandakan ada tape di sana. Sedikit melihat kembali untuk memastikan, seraya mengangkatnya, aku tersenyum dan berkata "tape panas, bapak" . Bapaknya tersenyum dibalik kerut di wajahnya. Ada dua hal yang menyenangkan di sini. Pertama beliau tersenyum, meskipun senyumnya banyak mengandung arti namun binar matanya menunjukan bahwa beliau menyukai saya sebagai pelanggan. Kedua saya menjadi senang, bagaimanapun aku terasa menyenangkan bila melihat orang tersenyum karena kita, ada perasaan senang dan bercampur haru. Inilah angkringan, banyak sekali cerita tidak terduga yaang sering kali menginspirasi. Banyak sekali pola tingkah interaksi di sana, mungkin ada kepalsuan, namun ada rasa nyaman di sana dan kenyamanan adalah hal yang mahal, namun angkringan menjualnya seharga nasi kucing dan teh panas.

Segelas tape panas, disajikan beliau perlahan. Warnanya hijau bening, tidak pekat, tapenya tidak begitu hijau namun agak kekuningan, atau sering dibilang hijau muda sekali. Aroma tapenya sangat terasa, layaknya alkohol, aroma tape ini juga pekat, namun harum dan enak mengundang selera. 
 Aku cukup lama memperhatikan gelasku, sampai-sampai empunya angkringan membuyarkan pengamatanku dengan halus . "Tapenya asli, airnya panas pas, dan gelasnya bersih, wanginya pasti terasa sekali" senyum sumringah ala-ala seles promosi nampak dibalik raut wajah beliau. dan aku sepakat. inilah tape panas yang sebenarnya. Kenapa sebenarnya? karena tidak banyak penjual angkringan yang menjual tape ketan, dan kalaupun ada, ketan tapenya itu tidak mengundang selera, tidak asli hijaunya agak sedikit tua, dan baunya tidak begitu enak. Tape panas ini lain daripada yang lain, menurutku. "tidak sembarangan itu mas, saya tidak punya banyak, hanya beberapa saja. Tidak cukup waktu buat bikinnya. Beruntung mas datang ke sini tapenya pas lagi ada" beliau menambahkan. Berarti tape ini adalah bikinan tangan beliau.. WOW....

"iyah pak, rasanya lain. Penuh kenikmatan, tidak menyesal saya tidak jadi hujan-hujan. malah dapet tape panas uenak" saya berusaha menimpali usaha bapaknya.. Saking nikmatnya minumanku, sampai-sampai aku baru tersadar kalau tidak sendiriaan sebagai pelanggan, ada seorang bapak-bapak juga sedang manikmati tape panas. Mungkin mendengar celotehku, beliau menjadi terkekeh, sekaligus memberi tanda kehadiran baliau di sana. "mas ini bisa aja. jenengan mahasiswa mana mas?" tanya beliau. "oh, saya mahasiswa kampus "itu" pak" sebagai catatan, kata itu menunjukan kampusku yang hanya satu kilometer dari sana. "jurasan apa mas? semester berapa? kok rapih pakaiannya? apa jenengan sambil kerja nggih?" pak angkringan menimpali dengan berondongan pertanyaan. Aku sedikit kaget, seperti "kepo" sekali beliau. sedikit menghela nafas kemudian aku menjawab  "mboten pak, saya hanya kuliah saja. Masih semester satu di S2 Psikologinya" jawabku bangga.
"oalah jenengan tuh S2 toh, tak kira masih S1, pantes lah kalau pakaiannya rapih" sahut pak angkringan. Obrolan pun berljanjut hangat, berawal dari tape hangat sampai ngalor ngidul membahas pakaian. Ada sebuah kalimat menggelitik dari bapak pelanggan

 "apakah sebuah pakaian itu menunjukan profesionalitas? dan atau hanya membedakan sebuah status pekerjaan?" 

yah, menurut kata orang. pasti dua-duanya. Untuk membedakan pekerjaan namun juga menunjukan profesionalitas. Beliau membuat pembanding yang mungkin tidak sebanding, namun ada hal dibalik itu semua.

"bagaimana kalau mereka yang berdasi dan duduk di ruang AC dengan kursi nyaman tetapi korupsi? dibandingkaan dengan para tukang becak yang memakai celena pendek dan baju compang camping tetapi bekerja setulus hati. Atau dokter yang berjas putih tetapi membuat pasien lama menunggu sebanding dengan penjual angkringan yang menyajikan gelas pun dengan sopan? Mana yang profesional? jadi sebenarnya profesional itu apa?"

mmm....... sebuah perenungan.... to be continued..

Minggu, 07 Oktober 2012

the meaning of SELO??

SELOOOOOOOO ...

"sebuah tas" taken by fun_photo

     Begitu banyak orang bertanya pada saya? what's the meaning of selooo? saya memang sering menggunakan kata tersebut. Sejujurnya... kata tersebut bukan berasal dan bersumber dari intuisi saya. Namun, dari seorang teman saya yang luar biasa bernama Ikhsan, dan biasa dipanggil si Prof.. karena ketika kalian lihat tampangnya, maka bayangan profesor aneh dengan tatanan rambut tidak jelas serta kata-kata yang "krik-krik-krik" bakalan nongol dihadapan kalian..... 

      Balik kepermasalahan.... kadang kala kita sering menggunakan sebuah kata, dan tanpa disadari penggunaan dan atau penempatan kata tersebut di dalam sebuah kalimat adalah salah. Simplenya adalah "emosi" , Emosi sering kali diidentikan dengan "marah", padahal dengan sangat jelas sekali bahwa MARAH itu EMOSI, tapi EMOSI itu belum tentu MARAH.... yah.. begitu pula pemakaian dan pemaknaan kata SELOOOO buat saya. Secara jujur, kata selo dalam bahasa jawa adalah "longgar", itu setahu saya. atau kalau dalam penggunaannya sering diartikan sebagai "cukup waktu luang", itu arti "SELO" secara sempit bagi saya. Sama halnya ketika Sudjiwotedjo bicara "JANCUK", mungkin arti sempitnya adalah sebuah makian, padahal pemaknaanya mungkin bukan demikian bagi beliau. 

        Yah demikian pula dengan saya, SELO buat saya tidak hanya longgar atau cukup waktu luang saja, SELO itu adalah "berbeda", ketika saya melakukan hal-hal yang umumnya tidak dilakukan, namun tidak melanggar norma dan karena memang hal itu menurut saya benar. Maka itu adalah waktu yang tepat buat anda bilang "SELO" kepada saya. Cukup waktu untuk melakukan hal-hal yang menurut orang lain itu tidak ada artinya. Kenapa "berbeda"? sering kali justru hal yang dianggap tidak umum, tidak benar, atau tidak banyak orang lakukan adalah sebuah "kejujuran". Contoh kecilnya, Ketika sudah banyak orang yang tidak memiliki waktu untuk tersenyum pada orang yang tidak dikenal, mungkin anda akan dianggap orang yang bodoh atau gila bila melakukannya. Namun, itulah kejujuran. Kenapa kita musti jaim? kenapa kita musti menutup diri untuk tersenyum? itulah SELO yang pertama.

          Mungkin saya memiliki banyak arti atau pemaknaan terhadap kata "SELO", tetapi dua saja yang akan saya ungkapkan. Nah, yang kedua adalah bahwa kata "SELO" itu berarti fleksibilitas atau kelenturan dalam menghadapi berbagai persoalan dan dalam menjalani hidup. Ketika orang begitu kaku akan perbedaan, maka "SELO" adalah melihat bahwa perbedaan yang ada itu sebagai sebuah keanekaragaman yang tidak perlu diperdebatkan. Ketika hal-hal yang begitu prinsipil secara kaku dipegang oleh orang, sehingga baginya "perbedaan" pendapat adalah ancaman, maka "SELO" adalah bagaimana anda kemudian melihat bahwa sebuah prinsip bisa saja saling menghargai dan tetap jalan beriringan tanpa merugikan dan merasa terancam satu dan yang lainnya. itulah "SELO" yang kedua. Jaman sekarang boleh dibilang adalah jaman yang kaku, orang-orang sering sekali melihat dunia secara tekstual, padahal bumi itu moving/ bergerak, artinya kita harus menjadi dinamis ketika berjalan di dalamnya. Maka selo adalah sebuah pilihan buat saya dalam menjalani hidup.

"can i walk in the water?" taken by fun_photograpic

          Dua hal itu mungkin secara prinsip bisa berbeda dengan para pembaca, namun ingat lah saya orang SELO yang menghargai perbedaan dan tidak merasa perbedaan pandangan adalah sebuah ancaman, selama anda tidak benar-benar mengancam saya, baca memukul, maka saya hargai pandangan anda juga. Secara menyenangkan dapat dikatakan bahwa orang selo dalam dua arti yang saya katakan tadi dapat digambarkan sebagai sosok out of the box, orang-orang yang mungkin bisa dengan leluasa keluar masuk comfort zone-nya, dan dengan bebas menjalani hidupnya dan dengan penuh kesadaran menyadari bahwa kebebasan adalah hal yang tanggungjawabnya paling besar. Ingatlah hidup hanya sementara, nikmatin hidup sesuai jalan yang kamu perjuangkan dan aspal dengan tenagamu sendiri. pertahankan kalau itu memang benar dan bersikaplah fleksibel pada perbedaan. Buat apa yang sementara ini mati-matian dipertahankan kalau tidak akan mendapat apa-apa ujungnya. Saya hanya berpendapat!! Keep SELOOOOO!! SALAM SELOOOO

Jumat, 07 September 2012

VACUUM.... blank or empty?

Sebuah gambaran mengenai arti KEKOSONGAN, apakah BLANK atau EMPTY ?

Judul yang aneh.... tidak ada alasan selain selintas pikiran dikepala mengenai arti kekosongan. Kalau ditranslate dalam kamus. Arti vacuum adalah kekosongan, namun kemudian kosong dalam arti BLANK? atau kosong dalam arti EMPTY? versi Englishnya, sepengetahuan saya VACUUM, BLANK, dan EMPTY berbeda makna. 


"Tetapi menjadi berbeda setelah dialihbahasakan ke dalam Bahasa Indonesia. KEKOSONGAN dalam arti KOSONG atau KOSONG? ini lah yang sering kali membuat bahasa Inggris menjadi ambigu ketika dialihbahasakan."

KEKOSONGAN, saya akan sedikit menggunakan bahasa yang sukar dimengerti, sehingga harap maklum. 

KEKOSONGAN kalau kita tarik dalam pemaknaan HIDUP, dapat menjadi BLANK sehingga kita bisa fill in the blank atau EMPTY sehingga half full half empty itu ada artinya. 

Tentu dua kalimat tadi maknanya berbeda bukan?

ketika kita BLANK, makanya kita perlu FILL IN THE BLANK, kita mengisi atau melengkapi kekosongan tersebut dengan sesuatu yang TEPAT tentu saja. Layaknya sebuah puzzle, hidup kita memang berisi potongan-potongan cerita dengan berbagai latar setting yang apabila disusun dengan tepat akan membuahkan sebuah gambaran utuh tentang HIDUP KITA, sehingga kita bisa bilang "it's my life"
Mudahnya adalah, kita sendiri yang menentukan gambaran yang seperti apa yang akan kita susun menjadi utuh. Sepertinya mudah, ternyata tidak semudah yang dibayangkan.




kemudian ketika EMPTY, harusnya kita HALF FULL HALF EMPTY, dalam hal ini jelas sistem keseimbangan menjadi sangat berperan. sehingga dalam hal ini kita memang perlu KEKOSONGAN. kenapa demikian? karena kekosongan dalam hal ini menciptakan sebuah hasrat untuk berupaya menjadi FULL atau penuh. Perlu disadari bahwa, kita tidak akan benar-benar bisa merasa full, karena  kalo kita full kita tidak akan adalagi yang namanya hasrat atau gairah. Ini berbahaya, seperti orang schizoprenia, tanpa gairah, hasrat, dan minat. Dengan adanya hasrat/ gairah/ minat hidup kita menjadi bertujuan dan terarah.

Maksud dan pointnya adalah.... Saya sering sekali mendengar atau melihat atau mengamati orang yang mengalami KEKOSONGAN dalam sebuah hubungan, dan mereka kemudian memutuskan untuk "SUDAH"
dengan kita bisa mendeskripsikan KEKOSONGAN yang seperti apa yang kita maksud, kita bisa tahu mengatasinya agar tidak berakhir "SUDAH". Secara teoritik memang tidak ada KEKOSONGAN dalam arti blank atau Empty, namun saya bukan berteori. Saya hanya membuat sebuah istilah agar menjadi lebih mudah.

KEKOSONGAN yang disebut dengan BLANK adalah ketika kita merasa "lost", tersesat, seperti kita merasa salah ambil jurusan, atau terbentur pada plihan-pilihan yang semuanya tidak kita inginkan sama sekali. Tetapi, saya ingatkan. Gambaran hidup yang kita susun, kita sendiri yang akan menentukan jadi seperti apa. Oleh karena itu ketika anda diputer bolak-balik seperti apa, anda harus ingat GAMBARAN yang sudah anda tentukan sebelumnya.

Dalam sebuah relationship, ketika awal anda berkomitmen. Maka tentukan gambar yang mudah dan sederhana, anda susun kepingan tadi menjadi utuh. kemudian lanjutkan dengan puzzle yang atau gambaran yang lebih besar dan susunlah perlahan bersama pasangan anda. maka FILL IN THE BLANK berlaku disini.
KEKOSONGAN yang disebut EMPTY adalah ketika kita merasa tidak ada kerjaan atau ketika hidup kita monoton, kehilangan gairah, dan itu-itu saja. lebih jelas lagi kalo kita amati di dalam sebuah "hubungan", ketika itu disebut BOSAN sehingga hal sepele menjadi masalah besar, ketika habbit berubah menjadi masalah, ketika ketersediaan waktu menjadi  hambatan, dan sebagainya, sehingga kita mengalami KEKOSONGAN. Maka ingatlah HALF FULL HALF EMPTY, buatlah hubungan positif yang tidak terburu-buru, beri jeda, beri ritme dalam hubungan yang dibangun, sehingga tidak seperti meminum air yang langsung kekerongkongan, namun perlahun-lahan seteguk demi seteguk. Ketika ada merasa FULL, tumpahkan sedikit untuk memberi sedikit ruang dan menjadikannya kosong. Kemudian anda berdua yang akan mengisinya kembali perlahan-lahan

sebuah pemaknaan sederhana dalam hal ini adalah, ketika menjadi sebuah hubungan. Jangan buru-buru anda menginginkan FULL, dan buatlah sebuah gambaran sederhana yang semakin lama-semakin besar dan Indah, namun anda punya keinginan untuk menuntaskannya secara perlahan menjadi utuh.

Life is simple, Make it simple, Simple things simple Way

Kamis, 14 Juni 2012

Angkringan "the teh jahe"

Angkringan... "The Teh Jahe"

the tittle is little weird maybe... hahaha there's "the" above an Indonesia words, whatever lah. Akhirnya nulis juga, setelah menghabiskan 4 jam berkutat dengan film yang nggak jelas juntrungannya "the descendent" and "the art getting by" dua film yang jelas berbeda, "a lot" 

"The Descendent" menceritakan tentang sebuah konflik keluarga, berhubungan dengan perselingkuhan, anak-anak yang bandel, dan budaya kepulauan hawai, nice island, i'll took it to my vocation plan. Dan "the art getting by" tentang gaya hidup remaja amerika yang bandel, semau gue, rawan konflik di sekolah dan keluarga, loneliness, such a terrible life as teenager includes the love story.

the point is everyday in our life we had a lot of problems, and in the certain time we lost our faith and need the motivation booster, and the worst is we didn't have it, so? what could we do? where just alone, wait to the next day, hope that when we closed our eyes and opened it will be miracle and our problems had solved.
Hahahaha... it's humanly maybe...


hubungannya dengan teh jahe?? NOTHING, 

kidding

tiba-tiba saja saya kepikiran "the teh jahe", salah satu menu minuman di Angkringan yang jarang sekali saya dengar orang memesannya. Entah kenapa? mungkin karena bukan perpaduan dua hal yang pas, atau karena jahe akan tidak terlalu "nyegrak", kalau bahasa saya, jika diolah bareng susu daripada dengan teh. 

tetapi menurut saya, itu sebuah perpaduan yang pas, teh yang memberikan ketenangan dicampur dengan jahe yang menghangatkan, tenang dan hangat. Dalam situasi yang saya ceritakan di atas,salam kondisi yang kita benar-benar ngerasa capek dengan semua permasalahan yang ada,  sering kali yang kita butuhkan adalah "kehangantan dan ketenangan" hangat dalam perhatian dan tenang untuk mencari penyelesaian.

Itulah sensasi dari teh jahe, "hangat dan tenang", ketika ada meminumnya perlahan, coba rasakan sensasi hangat yang perlahan turun membasahi krongkongan, aroma teh dan jahe yang tercium saat anda meminumnya memberikan sensasi aromaterapi yang menenangkan.
sama dengan kopi, teh jahe bukan sesuatu yang mudah dibuat, maksud saya tidak mudah membuat teh jahe yang "menghangatkan dan menenangkan" sering kali jahenya terlalu "nyegrak" atau tehnya kalah kental dengan jahenya sehingga tehnya tidak berasa, atau perpaduan keduanya menghilangkan rasa manis dari gula sehingga hambar jadinya.

Demikian Dalam hidup, nggak banyak orang yang bisa jadi seseorang yang "hangat dan tenang" buat orang lain, membuat orang yang sedang dalam masalah dapat menyelesaikan masalahnya dengan pikiran jernih dan tanpa keraguan.  Tidak banyak orang yang bisa demikian, sering kali ketika kita bercerita dengan orang lain, mereka membiarkan kita larut dalam gumpalan emosi yang tidak jelas mau kita apakan energi sebesar itu atau membuat kita terjebak pada asumsi asumsi mereka tentang masalah kita, membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar, tidak kalem sama sekali. Berbeda dengan orang yang bisa menjadi
the teh jahe

Buat calon psikolog, sebaiknya anda belajar untuk menjadi demikian, orang yang hangat akan membuat siapa saja yang bermasalah merasa nyaman untuk bercerita dan shared tentang masalahnya, sedangkan orang yang tenang akan membuat orang lain menjadi "calm" dan jernih dalam berpikir untuk menemukan solusi yang terbaik tentang masalahnya.
Tidak hanya psikolog, siapapun yang sedang punya masalah saya sarankan untuk meminum teh jahe, mencari sensasi "hangat dan ketenangan" dalam seruputan the teh jahe.

"Perpaduan antara teh dan jahe yang menggugah selera, seduh kebijaksanaan dalam permasalahan hidup."

Rabu, 23 Mei 2012

You and Me, Critical and Criticize Culture

You and Me, Critical and Criticize Culture....
Merujuk pada arti budaya menurut Kamus Bahasa Indonesia online, yang berarti sebuah kebiasaan yang sulit dirubah, dengan demikian kebiasaan kritis dan mengkritik dapat dikategorikan sebagai budaya seluruh atau sebagian atau hanya beberapa lapisan masyarakat Indonesia... mungkin dunia.

kritis memiliki banyak arti, tetapi dalam tulisan ini, yang saya maksud adalah kritis dalam arti "tajam dalam menganalisa" dan kritik yang saya maksud adalah "kecaman atau tanggapan yang sering disertai pertimbangan baik dan buruk", itu versi yang saya dapat dari Artikata.com

pict by blog.self-improvement-saga.com

okey, bagian luarnya sudah cukup. point yang ingin saya shared adalah sering kali orang mengkritik dengan dalih bersikap kritis. "nah" itu dia masalahnya.

Kritik atau mengkritik di Indonesia, Identik dengan kecaman atau bersifat negatif, akibatnya orang yang dikritik merasa tidak nyaman, akhirnya menimbulkan debat kusir yang "nggak" jelas arahnya. Saya lihat ditelevisi dan mengobservasi di sekitar, begitulah kenyataannya. 
Padahal sudah jelas, kritis dan mengkritik itu adalah berbeda. ketika anda mengkrtitisi mungkin hasilnya sebuah analisis mendalam tentang sebuah permasalahan yang tentunya bersifat objektif dengan didukung fakta-fakta yang bersifat objektif pula. Sedangkan ketika ada mengkritik sering kali adalah sebuah analisis dangkal tanpa fakta yang objektif, atau ada fakta namun bersifat subjektif.
Para elit sering melakukan hal ini, dan ini menjadi contoh yang tidak baik buat masyarakat. Walaupun sebenarnya, masyarakat sendiri juga sudah terbiasa mengkritik bukan mengkritisi. kenapa bisa demikian? itu juga sebuah pertanyaan besar untuk saya? 

Kalau kita berbicara tentang "kritis" pada dasarnya manusia memiliki "akal" yang memunculkan logika, nah dari logika ini lah yang akhirnya memunculkan rasa ingin tahu dan berawal dari ingin tahu bisa memunculkan sikap kritis.
Sedangkan mengkritik menurut saya pribadi muncul karena adanya perasaan subjektif yang negatif/ sentimen negatif sehingga mendorong seseorang untuk mencari celah kecacatan atau kekurangan seseorang. Oleh karena itu sangat berbeda dengan mengkritisi, berbeda tujuan dan alasannya. 

pict by http://edyprawoto.com/kemampuan-berpikir-kritis.html


Mengkritik adalah hal yang buruk menurut saya pribadi, alasan sederhananya karena niat awalnya sudah jelek, maka hasil yang didapat juga sesuai dengan niatnya. seperti yang telah saya jabarkan. Meskipun ada istilah "kritik yang membangun" buat saya pribadi, kritik itu tidak membangun, membangun tidaknya sebuah kritik itu bergantung pada yang menerima kritik, mau direspon menjadi hal yang membangun atau mau dilawan. 

"Nah" kembali kemasalah utamanya, karena mengkritik dan mengkritisi itu berbeda.. menurut saya pribadi. Jangan kemudian kita membiasakan diri untuk mengkritik dengan dalah kritis. Biasakan untuk mengkritisi, sehingga anda tidak hanya memberitahu kepada seseorang tentang kekurangannya saja, namun juga disertai dengan cara atau langkah-langkah yang bisa dia pergunakan untuk memperbaiki diri..
Buat para elit, membiasakan diri mengkritik itu tidak baik, karena mengkritik hanya akan menimbulkan dendam, dan ketika bumi itu berputar terbalik, maka giliran ada dikritik, begitu seterusnya sehingga anda hanya sibuk mengkritik dan dikritik bukannya malah melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat. Dan akan menjadi contoh yang tidak baik bagi masyarakat, karena masyarakat menjadi terbiasa untuk mengkritik namun tidak berpikir mendalam untuk mengkritisi, budaya yang tidak membangun sama sekali.

just shared.... AKU dan KAMU marilah saling mengkritisi.....

Rabu, 25 April 2012

Angkringan "to love somebody" part 2

akhirnya sempet juga nulis blog.... sibuk ngurus bayi my man.... what? bayi? adikku maksudnya... sekilas info aja, gara2 ortu pergi liburan, terpaksa aku merelakan 10 hari duniaku diambil secara halus untuk mengurus rumah beserta isinya.... *menyedihkan. 

ditulis dengan mendengarkan The Fray "i can barely say" in my own room at 18:59

ANGKRINGAN "to Love somebody" part 2

"itu sama halnya dengan kita mencintai hidup  dengan jalan yang kita cinta kan?" seseorang berpenampilan punk ternyata ikut menyimak obrolan kita. "Yah begitu lah mas, mas mencintai hidup mas dengan menjadi seorang punkers, dengan cara itu lah mas dapet ngerasain meaningful life, kebermaknaan hidup" bapak itu berseloroh. Sepertinya dia orang psikologi... aku begumam... "tapi, mohon maaf bapak dan masnya nih, apa iyah hidup jenengan yang punkers itu bermakna, secara kalo dari kata "makna" itu kan artinya berarti atau mengandung arti. dan dengan demikian apa arti menjadi punkers, mohon maaf ini sebelumnya", kataku sopan.
"pertanyaanmu bagus mas. nggak semua punkers seperti yang ada dalam kepalamu" jawabnya meninggi. "punk itu sebuah jalan hidup di mana aku bisa bertanggungjawab atas semua yang aku pikir dan lakuin" dia melanjutkan.
mataku terbelalak kaget, seorang punkers yang identik dengan gaya hidup begundal berandal, punya pikiran yang "wow" dan disampaikan dengan sederhana - baca sopan. "itu lah punk mas, itu lah makna hidup buat saya. saya bukan orang yang lembek dididik dengan uang, saya orang yang dididik dengan keras oleh jalanan untuk selalu belajar menghargai hidup saya" dia menambahkan dengan berapi-api. 

yah itu lah mas, makna hidup. Pemaknaan itu masing-masing, karena orang punya persepsi dan kemampuan berpikirnya masing-masing" bapak itu meluruskan dengan bijaksana. "pemaknaan hidup ini lah yang akan menjadi nilai kita dalam berperilaku dan menapaki setiap jejak kehidupan kita" wow.. seperti motivator saja bapak ini. 

"Saya dari Sidoarjo, saya khusus ke Jogja hanya untuk mengunjungi teman saya ini", dia menepuk pundak penjual angkringan. "karena buat saya, persaudaraan lah yang membuat saya bermakna, maka saya mengikat persaudaraan dengan siapa saja dengan cara yang saya cinta... musik dan berdiskusi" mengakhiri kalimatnya dengan menyeruput teh nasgitel khas angkringan.

Perbincangan hangat ini ditutup dengan lagu John Lennon yang Imagine, dengan ukelele tangan itu menari, memetik gitar dengan lembut dan suaranya yang merdu. Sometimes we must have a time to share sir... glad to know and see you...

Begitulah saya belajar dari teman dan saudara baru saya, tidak banyak yang kita tahu di dunia ini, sampai akhirnya kita membaca langsung dari sumbernya, itu lah kenapa membaca bukan hanya berteori.