Minggu, 19 Januari 2014

FILOSOFI KOPI #2


Kopi... adalah teman bagi mereka pencari makna, penikmat senja, dan petualang hidup
realitas yang pahit, diseduh dengan "panas" perjuangan untuk sebuah citarasa kehidupan.
yah.. itulah kopi.. teman bagi mereka pencari makna..
(notalone99, 2014)


Ada sebuah ungkapan bahwa Tuhan menciptakan sesuatu dengan alasan, salah satunya adalah agar manusia belajar daripada apa yang diciptakan untuknya. Sama seperti FILOSOFI KOPI #1, pada tulisan kali ini saya ingin mengajak pembaca untuk "belajar" dari sesuatu yang sangat dekat dengan kita, sesuatu yang selalu menginspirasi, sesuatu yang selalu menjadi teman bagi kebanyakan mereka yang mau belajar soal kehidupan. 
Ada sebuah FAKTA yang saya tidak tahu sejak kapan dipublikasikan, namun faktanya... Setiap penulis hampir selalu menghabiskan 2 jam waktunya di cafe dengan secangkir kopi. Entah untuk menulis atau hanya sekedar membaca atau hanya mengobrol dengan relasi. FAKTA itu membuktikan bagaimana kopi begitu dekat dengan anda yang ingin mencari makna.

Pencari makna.... terdengar berat, tapi memang manusia "hidup" untuk mencari makna seperti ungkapan Life to Learn and Learn to life  , kita "belajar" tentang bagaimana memaknai setiap sudut kehidupan kita dan menjadikannya pelajaran untuk menjalani kehidupan selanjutnya. 

Pencari makna, tentu sudah barang lama kita melihat bagaimana "kopi" tidak hanya disajikan secara Espresso saja, banyak jenis minuman kopi yang bisa ada pesan di cafe coffee di mana pun, seperti cappucino, caffelatte, macciato, double espresso, americano, coffeemix, frappuccino, dan banyak lainnya yang sudah banyak anda tahu. Dan tahukan ada, bahwa kopi juga banyak disajikan dalam berbagai bentuk makanan... salah satu yang sudah banyak orang kenal adalah "TIRAMISU"... Singkatnya, banyak sekali makanan dan minuman yang berasal dari kopi... dan tahukah anda, bahwa minuman atau makanan yang dicampur dengan kopi tidak pernah menghilangkan CITARASA khas dari kopi itu sendiri. Itu lah KOPI..

Kopi begitu khas dan kokoh pada jatidirinya, bahwa dia adalah kopi dengan aroma yang khas, sekalipun dia mendapat campuran dari berbagai bahan lain. Dia tidak pernah kehilangan jati dirinya. Itu lah yang kebanyakan orang "LUPA", jatidiri tanpa perlu bersinggungan karena perbedaan. Banyak sekali kasus yang tentu saja sudah sering anda dengar, kasus berkedok Agama, kasus berkedok suku, dan kasus lain yang sifatnya RASIS. Dalam kasus itu, kebanyakan disebabkan karena adanya anggapan bahwa perbedaan akan mengancam eksistensinya, bahwa perubahan akan berbahaya bagi kelangsungan jatidirinya. sehingga terjadi hal-hal yang sifatnya AGRESIF. Mari kita tengok kopi, sekalipun dicampur dengan berbagai bahan, dia tidak serta merta membuat perpaduan yang bikin anda ENEG, atau kemudian mendominasi dan menjadikan rasa makanan/ minuman tersebut menjadi Aneh - tentu saja dengan takaran tertentu - Itu lah kopi.
KOPI tidak pernah labil, dia dewasa dalam menunjukkan eksistensinya.. menganggap Perubahan dan Perbedaan sebagai sesuatu yang justru menguatkan JATIDIRI-nya, bukan sebuah BAHAYA yang akan menghilangkan kedewasaannya, membuatnya lupa diri, serta membuatnya menjadi labil. Itu lah kopi.

Penulis berusaha untuk tidak munafik, bahwa sesuatu yang dirasa mengancam akan memunculkan respon bertahan, namun cukup dewasa kah kita sehingga menjadikannya sebagai sesuatu yang justru menguatkan SELF, memperluas sudut pandang SELF, dan mempercantik perilaku SELF. 

KOPI... citarasa kehidupan, ciptaan Tuhan yang senantiasa menemani mereka pencari makna. Pencari makna yang cukup dewasa untuk menjadi manusia seutuhnya, mengakui kelemahannya, namun pribadi kuat dalam memaknai hiruk pikuk kehidupan dan bersyukur daripadanya.

"I have measured out my life with coffee spoons"- TS Eliot

Share this

0 Comment to " "

Posting Komentar